Insitekaltim, Samarinda – Di tengah derasnya arus informasi digital, ruang publik sering kali dipenuhi oleh berbagai klaim kesehatan yang membingungkan. Mulai dari larangan mengonsumsi makanan tertentu hingga tuntutan aktivitas fisik yang berlebihan, masyarakat kerap dihadapkan pada dilema dalam menentukan pola hidup yang benar. Berangkat dari keresahan tersebut, praktisi kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi mencoba mengurai benang kusut mitos medis yang telanjur dipercayai oleh masyarakat.
Salah satu mitos yang paling sering beredar adalah anggapan bahwa sebutir kuning telur dapat langsung memicu lonjakan drastis kadar kolesterol di dalam darah. Faktanya, dalam dunia medis, kolesterol bukanlah zat yang sepenuhnya jahat. Tubuh manusia justru membutuhkan kolesterol sebagai komponen dasar untuk memproduksi enzim dan hormon penunjang kehidupan.
Bagi individu dengan kondisi tubuh yang sehat, mengonsumsi telur dalam jumlah wajar setiap hari sama sekali tidak memicu hiperkolesterolemia. Peningkatan kadar kolesterol secara ekstrem biasanya merupakan dampak dari akumulasi gaya hidup yang buruk selama bertahun-tahun, bukan karena konsumsi telur harian yang normal.
“Apakah makan satu kuning telur langsung meningkatkan kolesterol? Tentu tidak… Kalau kita orang normal makan empat sampai enam butir, ya tidak apa-apa. Kuning telur itu enak dan bergizi,” ujar dr. Tirta.
Fenomena lain yang jamak ditemui di masyarakat, khususnya generasi muda, adalah ambisi untuk mendapatkan kebugaran fisik secara instan. Tidak jarang, seseorang memaksakan diri untuk melakukan olahraga dengan intensitas tinggi setiap hari tanpa mengambil waktu istirahat (rest day).
Padahal, tubuh manusia bukanlah mesin yang dapat terus dipacu tanpa batas. Otot dan organ jantung memiliki kapasitas adaptasi yang memerlukan fase pemulihan (recovery) secara berkala.
Memaksakan aktivitas fisik yang berat secara terus-menerus justru akan mendatangkan dampak buruk, seperti penumpukan kelelahan kronis, gangguan tidur, hingga meningkatnya risiko cedera otot.
“Kalau olahraganya intensitas tinggi dan dilakukan setiap hari, otot dan jantung tidak memiliki waktu pemulihan yang cukup. Hal itu justru akan merugikan diri sendiri,” tuturnya menekankan pentingnya jeda dalam berolahraga.
Sisi menarik lain yang diangkat oleh dr. Tirta adalah mitos unik mengenai penggunaan koyo atau perekat pereda nyeri setelah berolahraga. Sebagian orang khawatir penggunaan koyo dapat menghambat pertumbuhan massa otot yang baru. Padahal, secara anatomis, cara kerja senyawa farmasi pada koyo hanya berpenetrasi secara lokal di lapisan kulit luar guna melancarkan aliran darah, sehingga sama sekali tidak mengganggu mekanisme pembentukan jaringan otot di bagian dalam.
Beralih ke masalah estetika, dr. Tirta juga meluruskan asumsi mengenai penyebab penuaan dini dan kulit wajah yang kusam. Jika selama ini masyarakat cenderung menyalahkan konsumsi minuman manis secara berlebih, ia memaparkan sudut pandang medis yang berbeda.
Faktor utama yang paling agresif mempercepat penuaan pada kulit wajah sebenarnya adalah paparan sinar ultraviolet (UV) matahari tanpa perlindungan tabir surya (sunscreen), kebiasaan merokok, serta kurangnya waktu tidur secara konsisten. Berdasarkan pengalaman pribadinya, perbaikan gaya hidup dan pemenuhan nutrisi yang tepat jauh lebih efektif untuk mengembalikan kesegaran kulit.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan tubuh bukanlah tentang mengikuti tren yang ekstrem atau merasa cemas akibat mitos yang berseliweran. Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak, rasional, dan kritis dalam memilah informasi medis demi mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik.

