Insitekaltim, Samarinda – Jika ada satu hal yang paling membekas dari sosok Mohammad Sukri, itu bukan semata cara kerjanya, melainkan ritmenya—cepat, tegas, dan seolah selalu selangkah lebih maju dari siapa pun di sekitarnya.

Saya mengenalnya sekitar November 2025. Waktu yang terbilang singkat, namun cukup untuk meninggalkan kesan mendalam. Sejak pertemuan pertama, ia sudah menunjukkan karakter yang kuat: tegas dalam sikap, cepat mengambil keputusan, dan nyaris tak memberi ruang bagi keraguan.
Bekerja bersamanya berarti harus siap mengikuti tempo yang tidak biasa. Instruksi datang singkat, keputusan diambil cepat, dan setiap orang dituntut sigap membaca arah.
Tak jarang kami yang bekerja bersamanya tertinggal, kebingungan, bahkan merasa belum mampu mengimbanginya. Namun di balik ketegasan itu, ia selalu memberi contoh secara langsung.
Dari situlah saya mulai memahami, banyak hal yang tampak sulit sebenarnya bisa menjadi sederhana jika pola pikir sudah terbentuk.

Bagi saya, ia bukan hanya seorang pimpinan. Ia adalah mentor. Ia adalah penunjuk arah bagi saya dan bagi kami di jajaran Media Sukri Indonesia (MSI) Group.
Sejak awal, ia memberi kepercayaan yang perlahan membangun rasa percaya diri saya. Salah satu kalimat yang masih saya ingat hingga kini ia ucapkan dengan nada tegas:
“Kamu di Insite, harus hebat kayak saya dulu. Berita harus cepat, karena Insitekaltim ini saya artikan berita nomor satu Kaltim.”
Kalimat itu terus terpatri. Tanpa sadar, saya menanamkannya dalam diri: bekerja di Insitekaltim berarti harus cepat, sigap, dan tidak boleh tertinggal.
Namun ada satu kalimat lain yang jauh lebih sering ia ulang, hampir di setiap kesempatan.
“Semangat Andika, supaya kamu bisa jadi orang hebat.”
Ia mengucapkannya saat saya terlihat lelah, ketika sedang sakit, bahkan saat terlambat atau kurang maksimal mengirim berita.
Awalnya kalimat itu terasa biasa saja. Seperti motivasi umum yang sering diucapkan banyak orang. Tetapi karena terus diulang—baik lewat pesan WhatsApp maupun secara langsung—kalimat itu perlahan menetap dalam ingatan.
Tanpa sadar, saya mulai mengulanginya kepada teman-teman lain saat mereka kelelahan. Seolah kalimat itu bukan lagi miliknya, melainkan sesuatu yang harus diteruskan.
Barulah kemudian saya memahami, semangat yang ia maksud bukan sekadar kata-kata. Itu adalah cara hidup: tetap bergerak cepat, konsisten, dan tidak mudah berhenti.
Namun semua berubah pada Kamis, 16 April 2026.
Kabar itu datang begitu cepat. Siang hari, Adi—salah satu wartawan senior di MSI Group—menyampaikan bahwa Mohammad Sukri telah tiada. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun tak lama kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Saya terpaku. Pikiran kosong. Tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan saya baru sadar bahwa jalan yang saya tempuh menuju rumah sakit tempat ia dirawat ternyata salah arah.
Kepergiannya terasa begitu mendadak. Sehari sebelumnya, aktivitas masih berjalan seperti biasa. Kami masih duduk bersama dalam rapat, membahas arah perusahaan dan persiapan verifikasi Dewan Pers. Tidak ada tanda apa pun. Semangatnya masih sama seperti hari-hari sebelumnya.
Ia berpulang di usia 58 tahun.
Kepergian itu bukan hanya kehilangan bagi kami yang bekerja bersamanya, tetapi juga bagi dunia pers di Kalimantan Timur. Semasa hidup, ia dikenal aktif membangun media siber di daerah.
Ia mengembangkan jaringan media di bawah MSI Group, dengan sejumlah platform seperti Insitekaltim.com, Infosatu.co, Narasi.co, Natmed.id, hingga Sukri.id.
Selain itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Timur, yang berperan memperkuat ekosistem media digital di daerah.
Namun bagi saya pribadi, semua jabatan dan pencapaian itu bukanlah hal yang paling membekas.
Yang paling tertinggal justru kalimat-kalimat sederhana yang terus ia ulang. Tentang semangat. Tentang kecepatan. Tentang menjadi “orang hebat”.
Kini, setelah kepergiannya, kalimat itu tak lagi terdengar biasa.
“Semangat… supaya jadi orang hebat.”
Bukan sekadar motivasi, melainkan pesan yang ia tinggalkan. Sebuah harapan yang kini berubah menjadi tanggung jawab.
Dan saya tahu, satu-satunya cara membalas kepercayaan itu adalah membuktikan bahwa keinginannya benar: saya harus menjadi orang hebat.

