Insitekaltim, Samarinda – Kondisi ekonomi yang semakin menekan ternyata tidak serta-merta membuat anak muda, khususnya Gen Z menghentikan kebiasaan membeli kopi atau mengunjungi kafe. Bagi sebagian kalangan, kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup bahkan dianggap sebagai kebutuhan sehari-hari.
Mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Mulawarman (Unmul) angkatan 2020 Febi mengatakan, kebiasaan mengonsumsi kopi sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak anak muda saat ini.
Karena itu, fluktuasi ekonomi belum sepenuhnya menghilangkan minat masyarakat untuk membeli kopi atau datang ke kafe.
“Kopi itu kayak sudah jadi kebutuhan sekarang, bisa nge-boost mood entah nugas atau kerja. Bukan cuma mahasiswa atau orang yang kerja, anak sekolah juga sekarang sudah banyak yang ngopi. Jadi menurut aku kopi sudah dekat banget sama kehidupan sehari-hari,” ujarnya saat ditemui di Fore Coffee Samarinda, Kamis, 4 Juni 2026.
Febi mengaku tidak terlalu sering mengunjungi kafe. Dalam sebulan, ia biasanya hanya datang ke kafe sekitar dua kali. Meski jarang nongkrong di kafe, Febi mengaku cukup rutin mengonsumsi kopi.
Dalam seminggu, ia bisa membeli kopi sebanyak lima hingga enam kali namun lebih sering membeli kopi dengan harga terjangkau dibanding nongkrong di kafe premium.
“Kalau ngopi bisa sering, tapi bukan yang mahal. Paling beli kopi susu sekitar Rp15 ribuan. Kalau ke tempat yang lebih pricey jarang, paling dua sampai tiga kali sebulan. Ini juga kebetulan lagi habis gajian,” tuturnya sambil tertawa.
Febi yang juga bekerja sebagai personal trainer di salah satu pusat kebugaran di Samarinda dengan pendapatan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan menyebut mulai merasakan dampak kenaikan biaya hidup dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, pengeluaran terasa lebih cepat habis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Jujur mempengaruhi, kerasa banget uang cepat habis. Kalau tahun sebelumnya kayaknya enggak semasif ini. Tahun ini baru-baru kerasa banget uang cepat habis,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuatnya beberapa kali mengurangi frekuensi membeli kopi karena alasan keuangan. Saat kondisi keuangan sedang terbatas, ia memilih membeli menu yang lebih murah saat berkumpul bersama teman.
“Kalau uang lagi pas-pasan ya tetap ikut nongkrong, tapi beli yang paling murah. Karena sebenarnya yang dicari itu kumpul sama teman-temannya,” jelasnya.
Ramainya sejumlah kafe di Samarinda menunjukkan di tengah meningkatnya biaya hidup, masyarakat khususnya generasi muda masih menyisihkan sebagian pengeluarannya untuk kebutuhan hiburan dan gaya hidup, termasuk menikmati secangkir kopi bersama teman-teman.

