Insitekaltim, Samarinda – Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang membentang di area seluas sekitar1,8 juta hektare.Proses penetapan, sebagai Geopark Nasional memasuki tahap akhir.
Verifikasi lapangan oleh tiga tim verifikator dijadwalkan berlangsung pada 6–10 Juli 2026.
Jika lolos, kawasan karst purba yang membentang di Kabupaten Berau dan Kutai Timur itu, akan menjadi pintu menuju pengakuan yang lebih tinggi, yakni UNESCO Global Geopark.
Selain memiliki pegunungan karst purba dan ratusan gua, dengan lukisan cadas prasejarah. Kawasan ini juga menyimpan beragam spesies endemik, serta kekayaan budaya yang masih terjaga.
Pemerintah daerah menaruh harapan besar, terhadap keberadaan geopark. Sebagai fondasi pengembangan, pariwisata berkelanjutan di Kalimantan Timur.
Bukan hanya memperkuat daya tarik wisata, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata Berau, Yudha Budhisantoso, mengatakan sebagian besar geosite yang berada di wilayah Berau. Telah dikembangkan, menjadi destinasi wisata dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Dari total 26 geosite yang masuk dalam kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, sebanyak 15 berada di Kabupaten Berau.
Salah satu yang paling berkembang, adalah Labuan Cermin yang kini menjadi penyumbang terbesar retribusi sektor pariwisata daerah.
“Tentu kami menyambut baik peningkatan status menjadi Geopark Nasional, karena akan memperkuat branding kawasan. Menjaga keberlanjutan, sekaligus melibatkan masyarakat dalam pelestarian budaya dan lingkungan,” ujar Yudha kepada media di Samarinda, Rabu, 17 Juni 2026.
Selain Labuan Cermin, sejumlah lokasi lain seperti Sumber Air Panas Pemapak dan Pulau Kakaban di Maratua. Juga, terus didorong pengembangannya.
Namun khusus Pulau Kakaban, pengelolaannya masih memerlukan kolaborasi, dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur karena masuk dalam wilayah pulau kecil yang menjadi kewenangan provinsi.
Menurut Yudha, pengembangan pariwisata di kawasan geopark tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan.
Pemerintah Kabupaten Berau juga bekerja sama dengan Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (Puspar UGM) untuk menyusun kajian pengembangan destinasi yang tetap mengedepankan aspek konservasi dan pelestarian budaya.
“Ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan budaya harus berjalan beriringan. Itu yang sedang kami siapkan dalam pengembangan kawasan geopark,” katanya.
Dukungan serupa juga datang dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, Noviari Noor, menegaskan, sektor pariwisata telah menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, kehadiran status geopark akan memperkuat posisi Sangkulirang-Mangkalihat sebagai destinasi unggulan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Berbagai upaya penguatan sumber daya manusia dan pengembangan destinasi wisata terus dilakukan. Label geopark diyakini akan memperkuat daya tarik kawasan dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat berbasis pariwisata berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara, Senior Manajer Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Niel Makinuddin, menjelaskan bahwa konsep geopark bukan sekadar tentang bentang alam atau warisan geologi.
Geopark, merupakan pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ia menyebut, terdapat tiga pilar utama geopark, yakni konservasi, pengembangan ekonomi berbasis masyarakat, serta riset dan edukasi. Ketiganya menjadi fondasi penting dalam pengelolaan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat yang memiliki kekayaan geologi, hayati, dan budaya yang sangat besar.
“Geopark ini merupakan bagian dari transisi ekonomi, dari yang sebelumnya bertumpu pada sumber daya ekstraktif menuju ekonomi kreatif dan berkelanjutan,” kata Niel.
Menurut dia, pariwisata berbasis masyarakat menjadi salah satu fokus utama pengembangan kawasan. Masyarakat di kampung-kampung sekitar geopark diharapkan menjadi pelaku utama, mulai dari penyedia homestay, pemandu wisata, hingga pengelola usaha lokal.
Dengan potensi tersebut, penetapan Geopark Nasional dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat perlindungan kawasan sekaligus membuka peluang pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat Kalimantan Timur.
Setelah pengakuan nasional diraih, Sangkulirang-Mangkalihat akan dipersiapkan menuju UNESCO Global Geopark sebagai pengakuan dunia atas kekayaan alam dan budaya yang dimilikinya.

