Insitekaltim, Samarinda – Pengembangan pariwisata di Kota Samarinda tetap berjalan di tengah efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah daerah. Namun, keterbatasan sumber daya menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mengembangkan destinasi wisata yang membutuhkan dukungan dan biaya cukup besar.
Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda Andy Ariefin, mengatakan efisiensi anggaran berdampak terhadap seluruh organisasi perangkat daerah (OPD). Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat kegiatan pengembangan pariwisata dihentikan.
“Semua OPD terpotong. Tapi kalau dampak di kegiatan kami kami tetap melaksanakan kegiatan sesuai tupoksi kami, walaupun tanpa anggaran,” kata Andy, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurutnya anggaran bagi Disporapar lebih berperan sebagai stimulus. Karena itu sejumlah kegiatan tetap dijalankan dengan menyesuaikan skala prioritas, kualitas, dan kuantitasnya.
Andy menyebut Disporapar masih menjalankan koordinasi dengan sejumlah destinasi wisata termasuk dalam pengembangan destinasi, promosi, serta usaha jasa pariwisata.
“Kami tetap eksis koordinasi ke tempat-tempat wisata. Kami kan menangani pengembangan destinasi wisata, ada promosi sama usaha jasa pariwisata. Ini tetap berjalan,” ujarnya.
Di sisi lain Andy menilai tantangan pengembangan pariwisata Samarinda juga berkaitan dengan karakteristik potensi wisata yang dimiliki daerah.
Menurutnya Samarinda tidak memiliki kondisi alam seperti daerah yang sejak awal telah menjadi tujuan wisata, sehingga sejumlah potensi membutuhkan upaya lebih untuk dikembangkan.
Ia mencontohkan Sungai Mahakam yang dinilai memiliki potensi wisata, tetapi membutuhkan pengembangan agar dapat menjadi destinasi yang menarik bagi wisatawan.
“Mahakam untuk memoles menjadi tujuan wisata itu perlu ekstra. Pak Wali harus membangun teras sepanjang sungai sepanjang enam kilometer itu harus dipoles. Itu kan memerlukan biaya yang tidak kecil,” jelasnya.
Selain penataan kawasan pengembangan wisata susur Sungai Mahakam juga membutuhkan sarana pendukung seperti kapal yang tentunya memerlukan modal.
“Kalau kita mau menyusur sungai kita perlu kapal, dan itu juga tidak kecil modalnya,” katanya.
Andy menegaskan kondisi tersebut bukan merupakan hambatan khusus bagi pariwisata Samarinda melainkan tantangan dalam mengoptimalkan potensi yang tersedia.
“Kalau hambatan tidak tapi menjadi tantangan kita,” pungkasnya.

