Insitekaltim, Samarinda — Layanan kesehatan rujukan di rumah sakit menjadi sektor yang paling banyak menyerap anggaran kesehatan dibandingkan layanan primer. Tingginya biaya tersebut dipengaruhi kebutuhan peralatan medis, sarana, dan prasarana yang kompleks.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ismed Kusasih saat menjawab pertanyaan awak media terkait jenis penyakit atau layanan kesehatan yang paling membebani anggaran.
Ismed menjelaskan, secara umum pelayanan kesehatan terbagi menjadi dua yakni pelayanan primer dan pelayanan rujukan.
Menurutnya, pembiayaan terbesar umumnya berada pada layanan rujukan di rumah sakit karena membutuhkan dukungan peralatan medis serta sarana dan prasarana yang lebih kompleks.
“Pelayanan itu ada dua, pelayanan di primer dan rujukan. Nah biasanya kalau yang paling menyedot pasti biaya di rujukan. Rujukan di rumah sakit. Karena di rumah sakit ini kan pasti membutuhkan peralatan, kemudian macam-macam sarana di sana,” ujar Ismed, Selasa, 24 Februari 2026.
Selain hal itu, ia juga memberikan salah satu contoh kasus penyakit yang membutuhkan biaya besar adalah gagal ginjal. Pasien dengan kondisi tersebut harus menjalani terapi cuci darah secara rutin yang tentu memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit.
“Contohnya kayak gagal ginjal, nah itu biaya cuci darahnya kan sekian dan besar,” jelasnya.
Meski demikian, Ismed menegaskan bahwa upaya pencegahan tetap menjadi kunci utama dalam menekan tingginya pembiayaan kesehatan. Ia menyebut prinsip dasar dalam ilmu kedokteran yang hingga kini masih relevan adalah mencegah lebih baik daripada mengobati.
“Jadi pakemnya ilmu kedokteran itu tidak berubah sampai sekarang menerapkan slogan yakni, mencegah lebih baik daripada mengobati,” tegasnya.
Oleh sebab itu, ia menilai penguatan layanan kesehatan primer harus menjadi prioritas. Layanan primer yang dimaksud berada di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas dan klinik.
Menjelang mengakhiri pernyataan, ia menyampaikan di tingkat layanan primer terdapat pendekatan promotif dan preventif, seperti promosi kesehatan kepada masyarakat serta program vaksinasi dan upaya pencegahan lainnya.
“Makanya sekarang memperkuat layanan primer itu yang harus diutamakan. Nah layanan primer di mana? Di Puskesmas, di klinik. Karena di sana ada promotif, ada preventif. Promosi kesehatan, preventif pada vaksinasi, macam-macam,” pungkasnya.
Dengan penguatan layanan primer, diharapkan angka rujukan ke rumah sakit dapat ditekan sehingga pembiayaan kesehatan dapat lebih efisien dan berkelanjutan.
