Insitekaltim, Samarinda – Perpustakaan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) masih menjadi tujuan anak muda, terutama kelompok usia 15–25 tahun. Masalahnya, meningkatnya kunjungan belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan koleksi yang dibutuhkan pengunjung.
Data kunjungan yang disampaikan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim menunjukkan pengunjung usia 15–25 tahun menjadi kelompok yang paling banyak datang. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga mencari referensi untuk tugas kuliah hingga penyusunan skripsi.
Kepala DPK Kaltim Lisa Hasliana mengatakan, tren kunjungan mulai meningkat ketika aktivitas sekolah dan perkuliahan kembali berjalan, terutama sejak Juni hingga September.
“Yang paling ramai itu mulai anak masuk sekolah, anak kuliah. Jadi mulai Juni, Juli, Agustus, September ini terus meningkat terus kunjungan ini,” kata Lisa.
Namun, bertambahnya pengguna perpustakaan juga memunculkan persoalan pada koleksi. Buku dengan judul tertentu masih harus diperebutkan karena jumlah eksemplarnya terbatas. Pengunjung yang membutuhkan buku yang sedang dipinjam terpaksa menunggu sampai buku tersebut dikembalikan.
Lisa mengakui persoalan itu masih terjadi.
“Memang kita ini tidak pungkiri apakah memang judul bukunya terbatas itu-itu saja kemudian antrinya juga panjang,” ujarnya.
Persoalan tersebut cukup relevan bagi mahasiswa yang menjadi salah satu kelompok pengguna terbesar. Mereka datang untuk mencari buku referensi, menjadi anggota baru, hingga memanfaatkan koleksi untuk menyusun skripsi.
“Paling tinggi itu kan 15 sampai 25. Mereka itu kebanyakan juga lagi menulis buku, kemudian juga menjadi anggota baru,” katanya.
Pada Agustus, kunjungan langsung atau on site yang disampaikan DPK Kaltim mencapai sekitar 27.835 kunjungan. Jika digabung dengan kunjungan daring, totalnya sekitar 44.800 kunjungan.
Kunjungan langsung yang lebih besar menunjukkan keberadaan perpustakaan fisik masih dibutuhkan di tengah tersedianya layanan daring. Kebutuhan itu terutama terasa bagi pengunjung yang membutuhkan buku tertentu secara langsung.
Persoalannya, ketika satu judul banyak dicari, ketersediaan eksemplar menjadi batas layanan. Lisa mengaku pernah mengalami sendiri ketika mencoba mendapatkan buku yang diinginkan.
“Saya pernah coba antri. Saya kan ingin judul buku A misalnya. Antri kan? Nah, masih dulu dikembalikan,” ujarnya.
DPK Kaltim berencana menambah judul buku untuk mengurangi persoalan tersebut. Pengadaan koleksi baru dinilai diperlukan seiring bertambahnya pengguna dan beragamnya kebutuhan bacaan.
“Makanya nanti kita akan mempermudah lagi mungkin dengan pengadaan judul buku baru. Supaya mereka ini enggak antre,” pungkas Lisa.

