Insitekaltim, Samarinda – Anggota Komunitas Sape Kaltim sekaligus kru Juragan Entertainment Putra Olimpy mengatakan regenerasi menjadi fokus utama Komunitas Sape Kaltim dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional. Karena itu, komunitas tersebut secara aktif melibatkan generasi muda sebagai pelaku seni sekaligus menyiapkan pembinaan bagi calon penerus.
Ia mengungkapkan, mayoritas anggota Komunitas Sape Kaltim saat ini merupakan anak muda berusia 20 hingga 23 tahun. Mereka tidak hanya dilibatkan sebagai penampil, tetapi juga diberi kesempatan untuk belajar mengelola kegiatan komunitas dan mengembangkan kemampuan di bidang seni.
“Khususnya di Komunitas Sape Kaltim, anggotanya memang didominasi generasi muda. Kami ingin mereka bukan hanya bisa tampil, tetapi juga tumbuh menjadi pelaku seni yang nantinya mampu meneruskan komunitas ini,” ujarnya di Teras Samarinda, Sabtu, 27 Juni 2026.
Ia menjelaskan, Komunitas Sape Kaltim tidak hanya beranggotakan pemain alat musik sape. Di dalamnya juga terdapat penari tradisional, penari kreasi hingga guru seni yang memiliki peran berbeda dalam proses pembinaan anggota.
Keberagaman latar belakang tersebut dimanfaatkan untuk membangun proses belajar yang lebih menyeluruh. Para anggota saling berbagi pengalaman dan keterampilan sehingga setiap anggota baru dapat mengenal berbagai bentuk kesenian, tidak hanya terpaku pada satu bidang.
Ia menuturkan, proses regenerasi tidak cukup dilakukan melalui pertunjukan seni. Komunitas juga rutin turun langsung ke masyarakat untuk memperkenalkan seni budaya kepada anak-anak dan remaja. Melalui kegiatan tersebut, anggota komunitas mengajarkan permainan sape, tari tradisional, hingga berbagai bentuk kesenian daerah sebagai upaya menumbuhkan minat generasi muda.
“Di komunitas ada guru, ada penari, ada pemain sape. Mereka ikut mengajarkan adik-adik yang lebih muda supaya nantinya ada penerus yang bisa melanjutkan seni budaya ini,” tuturnya.
Ia meyakini pembinaan sejak usia dini menjadi langkah penting agar seni tradisional tidak kehilangan pelaku di masa mendatang. Semakin banyak anak muda yang mengenal budaya daerah, semakin besar pula peluang lahirnya generasi penerus yang mampu menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.
Selain membangun kemampuan di bidang seni, anggota muda juga didorong untuk aktif dalam berbagai kegiatan komunitas. Putra menyebut keterlibatan tersebut menjadi bekal bagi mereka untuk belajar bekerja sama, mengelola organisasi, hingga menyusun kegiatan yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Ia menambahkan, ruang belajar seperti itu penting karena pelestarian budaya tidak hanya membutuhkan seniman yang mampu tampil di atas panggung, tetapi juga generasi muda yang memiliki kemampuan mengelola komunitas agar tetap berkembang.
Ke depan, Komunitas Sape Kaltim menargetkan penyelenggaraan kegiatan budaya secara rutin sebagai wadah bagi anggota untuk terus mengasah kemampuan sekaligus memperkenalkan hasil pembinaan kepada masyarakat.
“Kami ingin semakin banyak anak muda bergabung dan belajar bersama. Harapannya, komunitas ini terus melahirkan pelaku-pelaku seni baru yang mampu menjaga sekaligus mengembangkan budaya daerah di masa depan,” tutupnya.

