Insitekaltim, Samarinda – Warga Samarinda belakangan ini dibuat bingung dengan cuaca yang berubah sangat cepat. Baru saja panas terik, beberapa menit kemudian hujan turun deras.
Uniknya lagi, hujan kadang hanya terjadi di satu kawasan tertentu, sementara daerah lain yang jaraknya tidak terlalu jauh justru tetap cerah.
Fenomena ini makin sering dirasakan masyarakat dalam beberapa pekan terakhir. Tidak sedikit warga yang mengeluhkan aktivitas mereka terganggu karena cuaca mendadak berubah, terutama pada sore hingga malam hari.
Ternyata, kondisi tersebut bukan sekadar cuaca aneh biasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Samarinda saat ini sedang mengalami fenomena hujan lokal yang umum terjadi saat masa pancaroba atau peralihan musim.
Staf Operasional BMKG Samarinda Muhammad Abil Nurjani menjelaskan, hujan lokal terjadi karena pembentukan awan hujan tidak merata di setiap wilayah.
“Hujan lokal muncul karena ukuran awan yang berbeda-beda, dan ini juga dipengaruhi oleh arah angin,” jelasnya.
Akibatnya, satu wilayah bisa diguyur hujan deras dalam waktu cukup lama, sementara daerah di sebelahnya justru tidak terkena hujan sama sekali.
Samarinda Panas Siang, Hujan Sore
Kalau diperhatikan, pola cuaca di Samarinda akhir-akhir ini hampir selalu sama. Siang hari terasa panas dan gerah, lalu menjelang sore awan mulai gelap sebelum akhirnya turun hujan.
Menurut BMKG, kondisi itu dipicu tingginya kelembapan udara di Kalimantan Timur. Saat cuaca panas, penguapan air dari sungai, rawa, hingga vegetasi meningkat drastis. Uap air tersebut kemudian berkumpul menjadi awan hujan ketika kondisi atmosfer sedang labil.
Karena Samarinda memiliki banyak daerah aliran sungai dan kelembapan udara tinggi, proses pembentukan awan hujan berlangsung lebih cepat dibanding beberapa wilayah lain.
“Kondisi atmosfer saat pancaroba memang membuat awan hujan terbentuk secara sporadis atau tidak merata,” ujar Abil.
Tidak heran jika warga sering merasa cuaca sekarang lebih sulit diprediksi. Bahkan dalam hitungan menit, langit yang sebelumnya cerah bisa langsung berubah mendung pekat.
Kenapa Hujan Terasa Lebih Sering?
Selain faktor pancaroba, BMKG menyebut peluang hujan di Samarinda memang masih cukup tinggi hingga akhir Mei. Intensitasnya memang kebanyakan ringan hingga sedang, tetapi frekuensinya lebih sering terjadi.
Fenomena ini juga membuat suhu udara terasa lebih lembap dan gerah meski hujan turun hampir setiap hari.
Bagi sebagian warga, kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas harian. Pengendara motor harus lebih sering membawa jas hujan, sementara pedagang kaki lima mengaku pembeli menjadi lebih sepi saat hujan turun mendadak.
Di beberapa titik Samarinda, hujan dengan durasi cukup lama juga mulai memicu genangan air, terutama di kawasan yang drainasenya kurang lancar.
BMKG Minta Warga Tetap Waspada
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem selama masa pancaroba berlangsung. Meski sebagian besar hujan masih tergolong ringan, potensi hujan deras dalam durasi singkat tetap bisa terjadi sewaktu-waktu.
Masyarakat disarankan rutin memantau informasi cuaca resmi dan mengantisipasi aktivitas luar ruangan terutama pada sore hingga malam hari.
Fenomena hujan lokal ini diperkirakan masih akan cukup sering terjadi di Samarinda selama kondisi atmosfer belum benar-benar memasuki musim kemarau penuh.

