Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Vape Bisa Diisi Etomidate hingga Sabu, Kaltim Siapkan Aturan Pelarangan

    Oktober 13, 2026

    Disdikbud Kaltim Dorong Seniman Masuk Sekolah, Karya Seni Lokal Diusulkan Masuk Museum

    Oktober 13, 2026

    Manfaatkan Transaksi MiChat, Tiga Pria Rampas Ponsel dan Uang Korban di Samarinda

    Oktober 12, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Samarinda»Samarinda Masih Dikepung Genangan, DPRD Singgung Sedimentasi dan Anak Sungai yang Menyempit
    Samarinda

    Samarinda Masih Dikepung Genangan, DPRD Singgung Sedimentasi dan Anak Sungai yang Menyempit

    AminahBy AminahMei 23, 2026Updated:Juli 2, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Wakil Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Arif Kurniawan menyoroti sedimentasi drainase dan penyempitan anak sungai sebagai penyebab genangan masih terjadi. (Insitekaltim/Aminah)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Curah hujan yang hampir terjadi setiap hari kembali memunculkan genangan di sejumlah titik Kota Samarinda. Kondisi ini memicu sorotan DPRD Samarinda terhadap sistem penanganan banjir yang dinilai masih belum terintegrasi dan cenderung sporadis.

    Wakil Ketua Komisi III DPRD Samarinda Arif Kurniawan mengatakan penanganan banjir tidak cukup hanya membangun drainase atau memperbesar parit di beberapa titik tanpa perencanaan menyeluruh dari hulu hingga hilir.

    “Pemkot perlu mengkaji penanganan banjir secara komprehensif. Jangan sporadis. Bikin parit tapi sodetannya enggak dibuat, enggak nembus. Bikin drainase tapi elevasinya enggak dilihat,” ujarnya, Rabu, 20 Mei 2026.

    Seperti proyek drainase di kawasan Juanda yang sempat dibongkar kembali karena aliran air tidak mengarah ke anak sungai sebagaimana mestinya. Persoalan seperti itu menunjukkan lemahnya perencanaan teknis dalam proyek pengendalian banjir.

    “Yang di Juanda itu, belum setahun sudah dibongkar lagi karena airnya tidak mengalir masuk ke anak sungai,” katanya.

    Penanganan banjir di Samarinda seharusnya tidak hanya fokus pada pembangunan fisik drainase, tetapi juga mencakup pembangunan folder, sodetan, kolam retensi hingga normalisasi sungai secara berkala.

    Sedimentasi yang tinggi akibat aktivitas galian tanah dan endapan lumpur membuat banyak drainase dan anak sungai mengalami pendangkalan sehingga aliran air tidak berjalan maksimal.

    “Normalisasi itu penting. Jangan cuma dilebarkan, tapi pengerukan rutin juga harus dilakukan. Samarinda ini sedimentasinya tinggi,” tegasnya.

    Banyaknya anak sungai yang kini menyempit akibat bangunan permukiman di bantaran sungai. Kondisi tersebut membuat air hujan sulit mengalir menuju Sungai Karang Mumus maupun Sungai Mahakam ketika curah hujan tinggi dan air pasang terjadi bersamaan.

    “Di Loa Bakung begitu, di Teluk Lerong juga begitu. Anak sungainya sudah sempit karena kanan kirinya dibangun rumah,” katanya.

    Selain faktor infrastruktur, Arif juga menyinggung rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan drainase, pernah ditemukan tumpukan sampah botol plastik memenuhi saluran air di kawasan Air Hitam.

    “Penanganan banjir ini bukan cuma tugas pemkot, tapi kita semua. Masyarakat juga harus disiplin buang sampah,” ujarnya.

    Dalam upaya jangka panjang, DPRD Samarinda saat ini tengah menyiapkan rancangan aturan mengenai sempadan sungai. Regulasi itu nantinya akan mengatur larangan pembangunan di area sekitar 10 meter dari tepi sungai guna menjaga ruang aliran air.

    Kebijakan tersebut tidak mudah diterapkan karena banyak permukiman warga yang sudah berdiri di bantaran sungai selama bertahun-tahun. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan relokasi dan dasar hukum yang kuat sebelum penertiban dilakukan.

    “Kalau anak-anak sungai ini tidak dibenahi, air dari mana-mana akhirnya enggak bisa keluar. Pas hujan deras dan air pasang, ya tetap banjir,” katanya.

    Persoalan sedimentasi dan penyempitan aliran sungai juga sebelumnya menjadi perhatian berbagai pihak di Samarinda. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV bersama pemerintah daerah diketahui terus melakukan normalisasi sungai dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir untuk mengurangi genangan di sejumlah titik kota.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Aminah

    Related Posts

    Pameran Di Balik Situs Angkat Memori Sejarah, Ruang Apresiasi Seni Kaltim Dinilai Masih Minim

    Oktober 12, 2026

    Tanggap Darurat Samarinda Diperpanjang hingga 19 Oktober, Karhutla Capai 643 Hektare

    Oktober 8, 2026

    Disnaker Samarinda Kembangkan Auto-Matching AK1 untuk Percepat Pencari Kerja Temukan Lowongan

    Oktober 7, 2026

    Dua Bulan Padamkan Karhutla, 15 Relawan Samarinda Mengeluh Sesak Napas

    Oktober 7, 2026

    Seluruh Buaya Muara di Taman Satwa Palaran Direlokasi, Kolam Kini Kosong

    Oktober 5, 2026

    Harga Pertamax Naik, Pekerja di Samarinda Kurangi Pulang ke Marangkayu

    Oktober 3, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Vape Bisa Diisi Etomidate hingga Sabu, Kaltim Siapkan Aturan Pelarangan

    AminahOktober 13, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Penyalahgunaan cairan rokok elektrik atau vape yang dapat dicampur zat berbahaya menjadi…

    Disdikbud Kaltim Dorong Seniman Masuk Sekolah, Karya Seni Lokal Diusulkan Masuk Museum

    Oktober 13, 2026

    Manfaatkan Transaksi MiChat, Tiga Pria Rampas Ponsel dan Uang Korban di Samarinda

    Oktober 12, 2026

    Pameran Di Balik Situs Angkat Memori Sejarah, Ruang Apresiasi Seni Kaltim Dinilai Masih Minim

    Oktober 12, 2026

    Karhutla Picu 13 Ribu Kasus ISPA, Pemprov Kaltim Perkuat Koordinasi Penanganan Bencana

    Oktober 12, 2026
    1 2 3 … 3,382 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.