Insitekaltim, Samarinda – Kualitas keturunan sapi tidak hanya ditentukan oleh induk betina, tetapi juga pemilihan pejantan yang memiliki keunggulan genetik. Salah satu metode yang dapat digunakan peternak untuk mendukung perbaikan mutu ternak ialah inseminasi buatan (IB), yakni memasukkan semen pejantan terpilih ke saluran reproduksi betina tanpa melalui perkawinan alami.
Kepala Bidang Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Timur (Kaltim) Ihyan Nizam menjelaskan, inseminasi buatan memungkinkan peternak memanfaatkan pejantan unggul tanpa harus mendatangkan atau memeliharanya secara langsung.
“Jadi kalau inseminasi buatan ini sebenarnya kawin buatan pada sapi. Kita bisa memilih pejantannya, betinanya yang unggul, kemudian sperma dari pejantan yang memang unggul dimasukkan ke betina supaya nanti anaknya lebih unggul dan lebih baik,” ujar Ihyan belum lama ini.
Melalui metode tersebut, pemilihan pejantan menjadi salah satu faktor penting dalam pembibitan. Sifat genetik yang diwariskan dari kedua induk berpengaruh terhadap karakteristik keturunan, meskipun hasilnya tetap bergantung pada kualitas genetik induk, kecocokan perkawinan, pakan, dan pemeliharaan.
Inseminasi buatan tidak mengubah masa kebuntingan sapi yang umumnya berlangsung sekitar sembilan bulan. Metode ini berfokus pada pengaturan reproduksi dan pemanfaatan materi genetik pejantan untuk menghasilkan keturunan dengan karakteristik yang diharapkan.
“Kalau sapi buntingnya sembilan bulan, ya tidak berubah. Anak yang lahir juga umumnya satu ekor. Namun, dengan inseminasi buatan, kita bisa memilih pejantan yang digunakan untuk meningkatkan kualitas keturunannya,” jelasnya.
Selain membuka akses terhadap pejantan unggul, inseminasi buatan dapat membantu peternak mengelola perkawinan ternak tanpa harus memelihara pejantan sendiri. Hal ini berpotensi mengurangi kebutuhan biaya pemeliharaan pejantan dan mempermudah pengaturan reproduksi, terutama bagi peternak dengan jumlah ternak terbatas.
Selain meningkatkan mutu genetik, pengelolaan perkawinan juga penting untuk menghindari inbreeding atau perkawinan antara ternak yang memiliki hubungan kekerabatan dekat.
Ihyan mengingatkan, perkawinan sedarah yang berlangsung berulang dapat meningkatkan risiko munculnya kelainan genetik dan menurunkan performa keturunan.
“Kalau sering terjadi kawin dalam atau inbreeding, itu bisa mengakibatkan cacat. Keturunannya juga bisa lebih kecil dan lebih mudah terkena penyakit,” katanya.
Meski demikian, inseminasi buatan tidak otomatis menghilangkan risiko tersebut. Pemilihan pejantan tetap harus memperhatikan silsilah dan hubungan kekerabatan dengan induk betina. Tanpa pencatatan reproduksi yang baik, penggunaan semen pejantan yang sama secara berulang pada ternak yang masih berkerabat juga berpotensi meningkatkan risiko perkawinan sedarah.
Karena itu, perbaikan genetik perlu disertai pencatatan asal-usul ternak, pemilihan induk dan pejantan yang sesuai, serta pemantauan kesehatan reproduksi.
Ihyan mengonfirmasi bahwa layanan inseminasi buatan telah dimanfaatkan oleh kelompok tani. Namun, dalam keterangan yang tersedia, belum ada data terperinci mengenai jumlah kelompok penerima, jumlah sapi yang telah di inseminasi, tingkat keberhasilan kebuntingan, maupun jumlah pedet yang lahir dari program tersebut.

