Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Pemkot Samarinda Harus Lebih Kreatif Tingkat PAD, Tanpa Membebani Masyarakat

    Agustus 11, 2026

    Kaltim Baru 56 Persen Temukan Kasus TBC, Dinkes Dorong 1.033 Desa Jadi Desa Siaga

    Agustus 11, 2026

    BAZNAS Kaltim Himpun Rp19,05 Miliar hingga Juli 2026, Zakat Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Mustahik

    Agustus 11, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»Diskominfo Kaltim»Kasus Kekerasan di Kaltim Tembus 1.110 Laporan, 61 Persen Korban Anak di Bawah Umur
    Diskominfo Kaltim

    Kasus Kekerasan di Kaltim Tembus 1.110 Laporan, 61 Persen Korban Anak di Bawah Umur

    Andika SaputraBy Andika SaputraDesember 4, 2025Updated:Februari 4, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Kepala Dinas DKP3A Provinsi Kalimantan Timur, Noryani Sorayalita
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Noryani Sorayalita mengungkapkan bahwa kasus kekerasan di Kaltim sepanjang Januari hingga 31 Oktober 2025 mencapai 1.110 laporan dengan total korban 1.118 orang.

    Dari jumlah tersebut, 61 persen merupakan anak-anak, sedangkan 39 persen korban dewasa, dengan rata-rata tiga kasus terjadi setiap hari.

    Noryani menjelaskan bahwa angka tersebut meningkat sekitar 90 laporan dibandingkan periode September yang tercatat 1.020 kasus. Meski situasi ini memprihatinkan, ia menilai kenaikan laporan juga menunjukkan meningkatnya keberanian masyarakat dalam mengungkap kasus kekerasan.

    “Kami mengapresiasi masyarakat yang mulai berani speak up dan melaporkan kasus kekerasan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain,” ujar Noryani, Kamis, 4 Desember 2025.

    Bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan pada 2025 adalah kekerasan fisik, disusul seksual dan psikis. Pola ini berbeda dari tahun sebelumnya yang didominasi kekerasan seksual.

    Sementara itu, kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tercatat sebanyak 15 laporan atau sekitar 1,1 persen dari total kasus kekerasan yang masuk ke sistem Simfoni PPA.

    Menurut Noryani, Kaltim bukan daerah pemasok korban, melainkan lebih sering menjadi tujuan dan transit, terutama wilayah dengan mobilitas tinggi seperti Balikpapan akibat pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    “Yang paling banyak itu di Balikpapan karena daerah transit dan dekat IKN. Kemungkinan kasusnya lebih dari 15, tapi itu yang tercatat sebagai laporan resmi,” jelasnya.

    Ia menambahkan bahwa modus perdagangan orang kini tidak lagi sebatas lintas provinsi. TPPO juga ditemukan dalam skala kabupaten, kecamatan, bahkan desa, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan literasi terkait kekerasan.

    Dalam hal penanganan, DKP3A melakukan pendampingan berjenjang bersama UPTD-PPA kabupaten/kota, termasuk pemulangan korban antarprovinsi dengan dukungan psikologis dan sosial sesuai kebutuhan.

    Menanggapi pandangan bahwa Tim Reaksi Cepat (TRC) PPA lebih responsif, Noryani menegaskan bahwa masing-masing memiliki mekanisme berbeda namun tetap berkoordinasi.

    “TRC berbasis masyarakat dan bisa turun kapan saja, sementara kami berbasis laporan dan sesuai regulasi. Tetapi dalam penanganan korban, koordinasi berjalan optimal,” tegasnya.

    Ia menjelaskan bahwa Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) tetap menjalankan fungsi pencegahan melalui layanan konseling. Meski keterbatasan tenaga psikolog menjadi tantangan, DKP3A tetap menggandeng psikolog klinis UPTD-PPA untuk menjaga efektivitas layanan.

    “Puspaga bersifat preventif. Dengan SDM terbatas, kami tetap berupaya optimal memberikan layanan yang dibutuhkan masyarakat,” tutupnya.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Andika Saputra

    Related Posts

    Rudy Mas’ud Pastikan Segiri Bisa Dipakai Borneo FC Berlaga di Kancah Asia

    Mei 18, 2026

    Benteng untuk Guru, PGRI Kaltim Diminta Prioritaskan Perlindungan Hukum dan Sertifikasi

    Mei 15, 2026

    Latsar CPNS Kutim Ditutup dengan Pesan Ketangguhan

    Mei 15, 2026

    IKAMBA Kaltim Resmi Dilantik, Seno Aji Soroti Peran Strategis Warga Manggarai Barat

    Mei 15, 2026

    Temindung Creative Hub Jadi Motor Baru Ekraf Kaltim, Rindekrafda 2026–2030 Disiapkan

    Mei 13, 2026

    Dari Tambang ke Kreatif, Gekraf Kaltim Didorong Jadi Motor Ekonomi Baru

    Mei 12, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Pemkot Samarinda Harus Lebih Kreatif Tingkat PAD, Tanpa Membebani Masyarakat

    Nur AjijahAgustus 11, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Di tengah tekanan fiskal dan proyeksi penurunan pendapatan daerah, Pemerintah Kota (Pemkot)…

    Kaltim Baru 56 Persen Temukan Kasus TBC, Dinkes Dorong 1.033 Desa Jadi Desa Siaga

    Agustus 11, 2026

    BAZNAS Kaltim Himpun Rp19,05 Miliar hingga Juli 2026, Zakat Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Mustahik

    Agustus 11, 2026

    Kejurkot Basket Samarinda 2026 Usai, Perbasi Tegaskan Pembinaan Atlet Tak Boleh Berhenti

    Agustus 11, 2026

    Andi Harun Ajak Hasanuddin Mas’ud Belajar APBD: Saya Terangkan dengan Bahasa Bayi

    Agustus 11, 2026
    1 2 3 … 3,272 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.