Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Perdana Digelar, BPSDM Kaltim Tingkatkan Kompetensi ASN di Bidang Penulisan dan Publikasi

    April 15, 2026

    Andi Harun Tegaskan Samarinda Mampu Bayar Tapi Secara Hukum Tidak Benar

    April 14, 2026

    DPRD Samarinda dan Bontang Bahas Strategi Tingkatkan Pendapatan di Tengah Tekanan Fiskal

    April 14, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Tokoh
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»Diskominfo Kaltim»Kasus Kekerasan di Kaltim Tembus 1.110 Laporan, 61 Persen Korban Anak di Bawah Umur
    Diskominfo Kaltim

    Kasus Kekerasan di Kaltim Tembus 1.110 Laporan, 61 Persen Korban Anak di Bawah Umur

    Andika SaputraBy Andika SaputraDesember 4, 2025Updated:Februari 4, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Kepala Dinas DKP3A Provinsi Kalimantan Timur, Noryani Sorayalita
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Noryani Sorayalita mengungkapkan bahwa kasus kekerasan di Kaltim sepanjang Januari hingga 31 Oktober 2025 mencapai 1.110 laporan dengan total korban 1.118 orang.

    Dari jumlah tersebut, 61 persen merupakan anak-anak, sedangkan 39 persen korban dewasa, dengan rata-rata tiga kasus terjadi setiap hari.

    Noryani menjelaskan bahwa angka tersebut meningkat sekitar 90 laporan dibandingkan periode September yang tercatat 1.020 kasus. Meski situasi ini memprihatinkan, ia menilai kenaikan laporan juga menunjukkan meningkatnya keberanian masyarakat dalam mengungkap kasus kekerasan.

    “Kami mengapresiasi masyarakat yang mulai berani speak up dan melaporkan kasus kekerasan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain,” ujar Noryani, Kamis, 4 Desember 2025.

    Bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan pada 2025 adalah kekerasan fisik, disusul seksual dan psikis. Pola ini berbeda dari tahun sebelumnya yang didominasi kekerasan seksual.

    Sementara itu, kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tercatat sebanyak 15 laporan atau sekitar 1,1 persen dari total kasus kekerasan yang masuk ke sistem Simfoni PPA.

    Menurut Noryani, Kaltim bukan daerah pemasok korban, melainkan lebih sering menjadi tujuan dan transit, terutama wilayah dengan mobilitas tinggi seperti Balikpapan akibat pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    “Yang paling banyak itu di Balikpapan karena daerah transit dan dekat IKN. Kemungkinan kasusnya lebih dari 15, tapi itu yang tercatat sebagai laporan resmi,” jelasnya.

    Ia menambahkan bahwa modus perdagangan orang kini tidak lagi sebatas lintas provinsi. TPPO juga ditemukan dalam skala kabupaten, kecamatan, bahkan desa, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan literasi terkait kekerasan.

    Dalam hal penanganan, DKP3A melakukan pendampingan berjenjang bersama UPTD-PPA kabupaten/kota, termasuk pemulangan korban antarprovinsi dengan dukungan psikologis dan sosial sesuai kebutuhan.

    Menanggapi pandangan bahwa Tim Reaksi Cepat (TRC) PPA lebih responsif, Noryani menegaskan bahwa masing-masing memiliki mekanisme berbeda namun tetap berkoordinasi.

    “TRC berbasis masyarakat dan bisa turun kapan saja, sementara kami berbasis laporan dan sesuai regulasi. Tetapi dalam penanganan korban, koordinasi berjalan optimal,” tegasnya.

    Ia menjelaskan bahwa Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) tetap menjalankan fungsi pencegahan melalui layanan konseling. Meski keterbatasan tenaga psikolog menjadi tantangan, DKP3A tetap menggandeng psikolog klinis UPTD-PPA untuk menjaga efektivitas layanan.

    “Puspaga bersifat preventif. Dengan SDM terbatas, kami tetap berupaya optimal memberikan layanan yang dibutuhkan masyarakat,” tutupnya.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Andika Saputra

    Related Posts

    Tak Sekadar Silaturahmi, Halal Bihalal Kaltim Bahas Dukungan Infrastruktur Daerah

    Maret 22, 2026

    Lebaran Pertama, Gubernur Kaltim Pilih Temui Lansia di Panti Sosial

    Maret 21, 2026

    Gubernur Kaltim Soroti Peran Strategis Baznas, Penyaluran Zakat Tembus Rp23 Miliar

    Maret 20, 2026

    Satgas Pangan Polda Kaltim Pastikan Stok Aman, Tidak Ada Penimbunan Jelang Lebaran dan Nyepi

    Maret 17, 2026

    Disperindagkop Kaltim Imbau Masyarakat Tidak Panic Buying LPG Jelang Lebaran

    Maret 17, 2026

    Jelang Idulfitri, Pemprov Kaltim Gelar Gerakan Pangan Murah Serentak

    Maret 17, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Perdana Digelar, BPSDM Kaltim Tingkatkan Kompetensi ASN di Bidang Penulisan dan Publikasi

    Andika SaputraApril 15, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kalimantan Timur (Kaltim) Nina Dewi:menyampaikan…

    Andi Harun Tegaskan Samarinda Mampu Bayar Tapi Secara Hukum Tidak Benar

    April 14, 2026

    DPRD Samarinda dan Bontang Bahas Strategi Tingkatkan Pendapatan di Tengah Tekanan Fiskal

    April 14, 2026

    Kasus Pelecehan Tak Kunjung Reda, Disdikbud Kaltim Singgung Kegagalan Pengawasan Sekolah

    April 14, 2026

    DBH Sawit Samarinda Menurun, Bapenda Soroti Ketergantungan pada Kebijakan Pusat

    April 14, 2026
    1 2 3 … 3,056 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.