Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Hujan Kembali Guyur Kaltim, Warga Sambut Lega Setelah Kemarau

    September 25, 2026

    Porprov Kaltim Tinggal 50 Hari, Dispora Minta THB Segera Didistribusikan

    September 25, 2026

    Terowongan Samarinda Tinggal Tunggu Rekomendasi Ahli, Operasional Ditarget Akhir Tahun

    September 25, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Kaltim Rawan Penyakit Gigitan dan Sengatan, Jumlah Korban Didominasi Perempuan
    Kesehatan

    Kaltim Rawan Penyakit Gigitan dan Sengatan, Jumlah Korban Didominasi Perempuan

    IraBy IraAgustus 7, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Ilustrasi Beberapa Gigitan dan sengatan Hewan berbisa (Foto by AI)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat, 111 kasus kedaruratan akibat gigitan dan sengatan hewan berbisa.

    Perempuan mendominasi jumlah korban dengan persentase mencapai 75,7 persen dari total laporan yang diterima.

    Data surveilans Dinkes Kaltim juga menunjukkan, mayoritas korban berasal dari kelompok usia produktif 20 hingga 45 tahun.

    Untuk mengantisipasi bertambahnya kasus, Dinkes menyiagakan 188 puskesmas dan puluhan rumah sakit umum daerah (RSUD), di 10 kabupaten/kota. Agar mampu memberikan penanganan cepat, kepada korban.

    Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, seluruh fasilitas pelayanan kesehatan diminta meningkatkan kesiapsiagaan dengan memastikan ketersediaan obat-obatan, perlengkapan kegawatdaruratan. Hingga sistem rujukan, bagi pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.

    Menurutnya, penanganan dini sangat penting. Karena racun dari hewan berbisa, dapat menimbulkan kondisi serius apabila korban terlambat memperoleh pertolongan medis.

    “Penanganan dini sangat penting, karena paparan racun dari hewan berbisa dapat menimbulkan kondisi serius. Apabila terlambat mendapatkan pertolongan medis,” ujarnya.

    Berdasarkan data Dinkes Kaltim, dari total 111 kasus tersebut, 55 kasus merupakan sengatan tawon, 49 kasus gigitan ular berbisa, sementara sisanya berasal dari sengatan hewan laut.

    Kota Bontang, menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 47 kejadian. Disusul Samarinda sebanyak 29 kasus, Berau 18 kasus, Kutai Barat 11 kasus, dan Paser enam kasus.

    Untuk mempercepat penanganan, Dinkes juga memperkuat sistem pelaporan terpadu, antara puskesmas dan rumah sakit. Sistem tersebut memungkinkan pemerintah memantau perkembangan kasus secara real time. Sekaligus memastikan kebutuhan logistik medis, termasuk serum antivenom, tersedia sesuai kebutuhan.

    “Melalui sistem pelaporan yang terintegrasi, kami dapat memantau perkembangan kasus dan memastikan kebutuhan logistik medis tersedia sesuai kondisi di lapangan,” kata Jaya.

    Hingga saat ini, tercatat tiga pasien telah mendapatkan terapi serum antivenom karena mengalami gejala keracunan akibat gigitan ular berbisa yang memerlukan penanganan khusus.

    Jaya menjelaskan, pemberian antivenom dilakukan berdasarkan indikasi medis dan kondisi pasien. Sehingga tidak seluruh korban gigitan ular otomatis mendapatkan terapi tersebut.

    Dinkes Kaltim mengimbau masyarakat, agar tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami gigitan atau sengatan hewan berbisa. Korban diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat agar mendapat penanganan medis secepat mungkin.

    “Idealnya tidak lebih dari dua jam setelah kejadian agar penanganan dapat dilakukan secara optimal,” pungkas Jaya.

     

    Dinkes Kaltim Gigitan Hewan Berbisa Jaya Mualimin
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ira

    Related Posts

    Kasus ISPA Kaltim Mulai Turun, Asap dan Minim Hujan Masih Jadi Ancaman

    September 24, 2026

    Transisi Global Fund, Kaltim Mulai Hitung Kebutuhan Anggaran Penanggulangan HIV/AIDS

    September 23, 2026

    Pembuluh Darah Bisa Menyempit Diam-Diam, Ini Penyebab dan Risikonya

    September 22, 2026

    Jalan Sedikit Sudah Tersengal? Waspadai Tanda Gagal Jantung

    September 21, 2026

    Kunjungan Poli Jantung RSUD IA Moeis Tembus 1.100, Klinik Gagal Jantung Diperkuat

    September 20, 2026

    Beban Penyakit Jantung Tinggi, RSUD IA Moies Samarinda Siapkan Layanan Khusus

    September 19, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Hujan Kembali Guyur Kaltim, Warga Sambut Lega Setelah Kemarau

    Ratu ArifanzaSeptember 25, 2026

    Insitekaltim, Kukar – Hujan kembali mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) Jumat pagi 25 September…

    Porprov Kaltim Tinggal 50 Hari, Dispora Minta THB Segera Didistribusikan

    September 25, 2026

    Terowongan Samarinda Tinggal Tunggu Rekomendasi Ahli, Operasional Ditarget Akhir Tahun

    September 25, 2026

    KPK Temukan Anomali Penganggaran Kaltim, Proposal Masyarakat Bakal Diperketat

    September 24, 2026

    Warga Kukar Protes Sodetan, Andi Harun Hentikan Pekerjaan Sementara

    September 24, 2026
    1 2 3 … 3,363 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.