Insitekaltim, Samarinda – Iduladha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga momentum syukur dan kebersamaan yang diatur secara khusus dalam syariat Islam.
Setelah Hari Raya Iduladha pada 10 Dzulhijjah, umat Islam memasuki hari-hari Tasyrik pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari tersebut, umat Islam dilarang melaksanakan puasa.
Larangan ini bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari syariat agar kaum Muslimin menikmati nikmat Allah SWT melalui makan, minum, dan memperbanyak dzikir.
Rasulullah SAW bersabda “Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”
(HR Muslim)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga bersabda “Janganlah kalian berpuasa pada hari-hari ini, karena hari-hari itu adalah hari makan dan minum.”
(HR Ahmad)
Karena itu, puasa pada tanggal 11–13 Dzulhijjah hukumnya haram bagi umat Islam, kecuali bagi jamaah haji tertentu yang tidak mendapatkan hewan dam.
Larangan tersebut menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan. Ada waktu untuk menahan diri melalui puasa, dan ada waktu untuk menikmati nikmat Allah sebagai bentuk rasa syukur.
Setelah Tasyrik, Pintu Amal Sunnah Kembali Terbuka
Berakhirnya hari Tasyrik menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali memperbanyak ibadah sunnah, termasuk puasa.
Bulan Dzulhijjah sendiri merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan di antaranya ada empat bulan haram.” (QS At-Taubah: 36)
Dzulhijjah termasuk dalam bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, memperbanyak amal saleh setelah hari Tasyrik menjadi bagian dari upaya menjaga semangat ibadah yang telah dibangun sejak awal Dzulhijjah.
Puasa Ayyamul Bidh dan Keutamaannya
Salah satu puasa sunnah yang sangat dianjurkan setelah hari Tasyrik ialah Puasa Ayyamul Bidh.
Puasa ini biasanya dilakukan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah. Namun khusus bulan Dzulhijjah, tanggal 13 tidak boleh digunakan untuk puasa karena masih termasuk hari Tasyrik.
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa pelaksanaannya digeser menjadi tanggal 14, 15, dan 16 Dzulhijjah. Keutamaan puasa ini sangat besar. Rasulullah SAW bersabda “Puasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Bukhari dan Muslim)
Penjelasannya, satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Maka puasa tiga hari dihitung seperti tiga puluh hari pahala puasa.
Puasa Ayyamul Bidh menjadi amalan ringan tetapi memiliki pahala besar, sekaligus sarana menjaga kesinambungan ibadah setelah Iduladha.
Puasa Senin dan Kamis sebagai Sunnah Rasulullah
Selain Ayyamul Bidh, puasa Senin dan Kamis juga bisa kembali dijalankan setelah hari Tasyrik selesai. Puasa ini merupakan sunnah yang sangat sering dilakukan Rasulullah SAW. Ketika ditanya alasan beliau berpuasa pada dua hari tersebut, Rasulullah menjawab:
“Amal-amal diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka ketika amalku diperlihatkan aku sedang berpuasa.”
(HR Tirmidzi)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa hari Senin juga merupakan hari kelahiran Rasulullah SAW serta hari pertama beliau menerima wahyu.
Puasa Senin dan Kamis bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga bentuk latihan menjaga konsistensi amal dalam kehidupan sehari-hari.
Puasa Daud, Puasa Sunnah yang Paling Dicintai Allah
Bagi yang mampu secara fisik dan mental, Puasa Daud menjadi salah satu ibadah sunnah paling utama. Puasa ini dilakukan secara selang-seling, sehari berpuasa dan sehari berbuka.
Rasulullah SAW bersabda “Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.” (HR Bukhari dan Muslim)
Puasa Daud melatih kedisiplinan tinggi dan pengendalian hawa nafsu secara konsisten. Namun para ulama juga mengingatkan agar ibadah sunnah tidak dilakukan secara berlebihan hingga mengganggu kesehatan atau kewajiban utama lainnya.
Hikmah Melanjutkan Puasa Setelah Iduladha
Melanjutkan puasa sunnah setelah hari Tasyrik memiliki banyak hikmah, baik secara spiritual maupun sosial.
Pertama, puasa menjaga hati agar tetap dekat dengan Allah SWT setelah momentum besar Iduladha berlalu.
Kedua, puasa melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan kesabaran. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk ketakwaan.
Ketiga, puasa juga mengajarkan empati sosial. Dengan menahan lapar dan haus, seseorang belajar memahami kesulitan orang lain yang kekurangan makanan setiap harinya.
Salah satu tanda diterimanya amal ibadah adalah kemampuan seseorang menjaga istiqamah setelahnya. Banyak orang semangat beribadah saat Ramadhan atau Iduladha, tetapi perlahan kembali lalai setelah musim ibadah berlalu.
Karena itu, puasa sunnah menjadi salah satu cara menjaga ruh ibadah agar tetap hidup dalam keseharian. Para ulama menjelaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah bukanlah yang paling banyak, melainkan yang paling konsisten dilakukan.
Rasulullah SAW bersabda “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang kontinu meskipun sedikit.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Maka setelah hari Tasyrik berakhir, umat Islam dianjurkan tidak berhenti pada euforia perayaan semata, tetapi melanjutkan perjalanan spiritual dengan memperbanyak amal sunnah, salah satunya melalui puasa.

