Insitekaltim, Samarinda – Harga sejumlah jenis cabai di Kota Samarinda mengalami kenaikan di tengah kendala pengiriman dari luar daerah. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda mengungkapkan biaya angkut dan keterlambatan distribusi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan harga komoditas tersebut.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda Eka Agustina mengatakan, kenaikan harga terjadi pada tiga jenis cabai yakni cabai merah besar, cabai merah keriting, dan cabai tiung. Meski demikian, kenaikannya masih relatif terbatas berdasarkan hasil pemantauan harga yang dilakukan pihaknya.
“Yang naik itu cuma tiga komoditas cabai merah, cabai keriting, dan cabai tiung. Naiknya cuma sedikit, 0,4 persen, 0,1 persen. Paling tinggi itu cabai merah besar di 1,4 persen kenaikannya,” ujar Eka saat ditemui di Gedung Dinas Perdagangan Kota Samarinda Selasa, 13 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, harga cabai di pasaran dapat berubah dalam waktu singkat karena pasokan Samarinda masih sangat bergantung pada pengiriman dari luar daerah. Sekitar 85 persen pasokan cabai yang beredar saat ini disebut berasal dari luar daerah.
Menurut Eka, keterlambatan pengiriman dan meningkatnya biaya angkut dapat mendorong pedagang menyesuaikan harga jual. Kondisi cuaca dan gelombang laut yang berpotensi menghambat perjalanan kapal juga dapat mempengaruhi kelancaran distribusi menjelang November hingga Desember.
“Kadang-kadang pengirimannya lambat, terus ongkos kirimnya agak mahal. Jadi, harga cabai itu kadang hari ini naik, besok bisa langsung turun, besoknya bisa naik lagi,” jelasnya.
Di sisi lain, pemenuhan pasokan dari petani lokal belum dapat dioptimalkan. Kondisi cuaca kering saat ini dinilai belum memungkinkan petani setempat menyediakan cabai dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pasar Samarinda.
Keterlibatan petani lokal sebenarnya dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar daerah, sekaligus menekan biaya distribusi, namun upaya tersebut tetap bergantung pada kemampuan produksi dan ketersediaan hasil panen.
Meski harga cabai mengalami kenaikan, Disdag menilai kondisi tersebut belum terlalu mengkhawatirkan bagi sebagian besar rumah tangga. Konsumen rumah tangga umumnya membeli cabai dalam jumlah terbatas, berbeda dengan pelaku usaha kuliner yang membutuhkan pasokan lebih banyak untuk operasional sehari-hari.
“Tapi kami tetap menyiapkan program pasar murah di sejumlah titik. Pemerintah juga memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok untuk mengantisipasi gejolak yang dapat membebani masyarakat,’’ tuturnya.
Pemantauan terus dilakukan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Jika diperlukan, pasar murah dapat kembali digelar sebagai salah satu upaya menjaga keterjangkauan harga komoditas di Samarinda.

