Insitekaltim, Samarinda – Wacana pengolahan sampah menjadi energi alternatif mendapat respons positif dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda. Namun, hingga kini realisasi program tersebut masih terkendala pada aspek teknis dan perencanaan, terutama terkait lokasi dan pengelolaan.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda Mohammad Novan Syahronny Pasie menyebutkan, pengelolaan limbah saat ini masih mengacu pada regulasi dari Kementerian Lingkungan Hidup, termasuk dalam penggunaan teknologi seperti insinerator yang tidak bisa diterapkan secara sembarangan.
“Pengelolaan sampah itu ada aturannya. Tidak semua metode bisa digunakan, tergantung jenis limbahnya,” ujarnya, Senin 20 April 2026.
Meski demikian, ia menilai kebijakan pemerintah pusat yang mendorong pemanfaatan sampah menjadi energi, termasuk listrik, merupakan langkah yang patut didukung.
Menurutnya, pengolahan limbah menjadi energi tidak hanya berdampak pada lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga berpotensi menjadi solusi di tengah tantangan energi, termasuk ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).
“Kalau sampah bisa diolah jadi energi itu sangat membantu. Selain ramah lingkungan, kita juga bisa memproduksi energi sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan hasil pengolahan tersebut bahkan berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, maupun sektor lain dengan biaya yang lebih terjangkau dibandingkan energi konvensional.
Namun, DPRD menekankan pentingnya kajian mendalam sebelum program tersebut direalisasikan, terutama terkait penentuan lokasi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.
“Yang perlu diperhatikan adalah tata letaknya. Harus sesuai dengan RT/RW dan tidak menimbulkan polusi udara bagi warga sekitar,” tegasnya.
Hingga saat ini Novan mengungkapkan belum ada pembahasan lanjutan secara konkret antara DPRD dan pemerintah daerah terkait proyek tersebut.
“Masih sebatas wacan belum sampai ke tahap pembahasan teknis atau penentuan lokasi,” ungkapnya.
Ia menambahkan meskipun pemerintah pusat membuka peluang pembiayaan, daerah tetap harus menyiapkan lahan dan memastikan kesiapan dari sisi perencanaan.
“Secara konsep bagus tapi implementasinya perlu kesiapan. Termasuk soal lahan dan siapa yang akan mengelola,” pungkasnya.

