Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Pemkot Pilih Teguran dan Pembinaan, Bagi ASN Langgar Aturan WFH Belum Disanksi

    Juli 21, 2026

    Sekitar 1.700 Atlet Kota Samarinda Masih Menunggu Kejelasan Anggaran Keikutsertaan Porprov 2026

    Juli 21, 2026

    HYROX, Olahraga yang Menggabungkan Lari dan Latihan Kekuatan dalam Satu Tantangan

    Juli 21, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Cantik Tidak Lagi Harus Putih, Standar Beauty Mulai Bergeser
    Lifestyle

    Cantik Tidak Lagi Harus Putih, Standar Beauty Mulai Bergeser

    SittiBy SittiJuni 2, 2026Updated:Juli 2, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Kulit sawo matang dan wajah natural kini semakin diterima sebagai definisi cantik yang nyata. (Kolase/Insitekaltim/Aminah)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Selama bertahun-tahun, standar kecantikan di Indonesia identik dengan kulit putih, tubuh langsing, dan wajah yang dianggap ideal oleh industri hiburan maupun iklan. Produk pemutih kulit membanjiri pasar, sementara iklan televisi sering menggambarkan perempuan cantik sebagai sosok berkulit cerah dan berpenampilan sempurna.

    Namun kini, standar tersebut mulai berubah. Banyak perempuan mulai merasa bahwa cantik tidak harus putih, tidak harus selalu mengikuti tren tertentu, dan tidak harus seragam.

    Perubahan ini terlihat jelas di media sosial, industri kecantikan, hingga cara generasi muda memandang diri mereka sendiri.

    Psikolog dari Universitas Indonesia Rose Mini Agoes Salim menjelaskan bahwa persepsi cantik banyak dipengaruhi lingkungan sosial dan media yang terus menerus menampilkan gambaran tertentu kepada masyarakat.

    Ketika masyarakat terlalu lama melihat satu tipe kecantikan yang dianggap ideal, maka standar itu perlahan dianggap sebagai kebenaran umum.

    Fenomena ini juga pernah dibahas dalam jurnal penelitian mengenai body image dan media representation yang menunjukkan bahwa paparan standar kecantikan sempit dapat memengaruhi rasa percaya diri perempuan, terutama remaja.

    Media Sosial Mengubah Definisi Cantik

    Jika dulu televisi dan majalah menjadi penentu tren kecantikan, kini media sosial membuka ruang yang jauh lebih luas. Banyak kreator konten tampil dengan kulit sawo matang, rambut keriting, freckles, hingga wajah berjerawat tanpa takut dianggap tidak menarik.

    Fenomena ini membuat masyarakat mulai terbiasa melihat keberagaman wajah dan warna kulit.

    Menurut laporan The Real State of Beauty dari perusahaan riset global Dove dan Edelman Data & Intelligence tahun 2024, sekitar 7 dari 10 perempuan di dunia merasa standar kecantikan di media sosial terlalu tidak realistis. Namun di saat yang sama, semakin banyak perempuan mulai mencari representasi kecantikan yang lebih alami dan autentik.

    Body Positivity dan Self Love Semakin Diterima

    Munculnya gerakan body positivity juga ikut mengubah cara pandang masyarakat terhadap tubuh dan penampilan. Gerakan ini mengajak perempuan menerima kondisi tubuh mereka tanpa terus membandingkan diri dengan standar sosial yang sulit dicapai.

    Psikolog klinis dan dosen Universitas Gadjah Mada Koentjoro pernah menyebut bahwa penerimaan diri memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa harus memenuhi standar sosial tertentu lebih rentan mengalami kecemasan dan rendah diri.

    Karena itu, banyak kampanye kesehatan mental kini menekankan pentingnya self acceptance atau menerima diri sendiri secara sehat.

    Perubahan pola pikir masyarakat membuat industri kecantikan mulai menyesuaikan diri. Banyak brand kosmetik kini menghadirkan shade foundation yang lebih beragam untuk berbagai warna kulit.

    Selain itu, istilah “whitening” perlahan mulai ditinggalkan dan diganti dengan istilah seperti “brightening”, “healthy skin”, atau “glowing skin”.

    Menurut laporan bisnis kecantikan dari McKinsey & Company tahun 2025, konsumen generasi muda kini lebih tertarik pada produk yang menonjolkan kesehatan kulit dibanding sekadar memutihkan warna kulit.

    Tren skincare juga berubah. Jika dulu fokus utama adalah membuat kulit lebih putih, kini masyarakat mulai memperhatikan skin barrier, hidrasi, sunscreen, dan kesehatan kulit jangka panjang.

    Cantik Kini Lebih Personal

    Perubahan standar kecantikan menunjukkan bahwa definisi cantik terus berkembang mengikuti zaman. Kulit sawo matang, tubuh berisi, wajah natural tanpa makeup, hingga rambut ikal kini semakin diterima dan bahkan dianggap menarik oleh banyak orang.

    Cantik tidak lagi hanya tentang memenuhi ekspektasi sosial, tetapi tentang bagaimana seseorang merasa nyaman, sehat, dan percaya diri dengan dirinya sendiri.

    Meski standar lama belum sepenuhnya hilang, perubahan cara pandang masyarakat menunjukkan bahwa kecantikan kini menjadi lebih inklusif dibanding sebelumnya.

    Dan mungkin, untuk pertama kalinya, banyak perempuan mulai merasa bahwa mereka tidak perlu menjadi orang lain untuk dianggap cantik.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Sitti

    Related Posts

    5 Tanda Social Battery Habis, Kenali Bedanya dengan Antisosial

    Juli 11, 2026

    Jejak Laut Purba di Tangga Bidadari Jadi Modal Geopark Sangkulirang-Mangkalihat

    Juli 7, 2026

    Haraku Ramen Hadir Ramaikan Kuliner di Big Mall Samarinda

    Juni 26, 2026

    Tak Lagi Sekadar Olahraga, Tenis Menjelma Jadi Gaya Hidup Modern

    Juni 21, 2026

    Mobilitas Warga Samarinda Tersandera Minimnya Pilihan Transportasi Publik

    Juni 21, 2026

    Lonjakan Diabetes pada Usia Muda, Akibat Makanan Instan dan Kurang Gerak

    Juni 16, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Pemkot Pilih Teguran dan Pembinaan, Bagi ASN Langgar Aturan WFH Belum Disanksi

    Nur AjijahJuli 21, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Hingga kini, pelanggaran Work From Home (WFH) yang ditemukan di Samarinda, masih sebatas…

    Sekitar 1.700 Atlet Kota Samarinda Masih Menunggu Kejelasan Anggaran Keikutsertaan Porprov 2026

    Juli 21, 2026

    HYROX, Olahraga yang Menggabungkan Lari dan Latihan Kekuatan dalam Satu Tantangan

    Juli 21, 2026

    SPM HIV Capai 99,8 Persen, Samarinda Jadi Lokus Supervisi Kemenkes

    Juli 21, 2026

    Pemda Samarinda Siapkan Parkir Berlangganan, Sebagai Sumber PAD Baru

    Juli 21, 2026
    1 2 3 … 3,230 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.