Insitekaltim, Samarinda – Untuk menjaga luas tambah tanam (LTT), sekaligus mempertahankan produksi pangan daerah di tengah kondisi kekeringan yang mulai terjadi di sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur (Kaltim) Fahmi Himawan mengatakan, percepatan tanam terus dilakukan.
Fahmi menyebut, pemerintah pusat menetapkan target laju tanam Kaltim sekitar 2.400 hektare untuk periode Agustus. Hingga saat ini, realisasi penanaman telah mencapai sekitar 80 persen dari target tersebut.
“Dari target pemerintah pusat sekitar 2.400 hektare hingga Agustus. Realisasinya sudah mencapai sekitar 80 persen,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam kegiatan Kesiapsiagaan Pangan Daerah Kaltim di Tengah Cuaca Ekstrem, Jumat, 28 Agustus 2026.
Menurut Fahmi, percepatan tanam perlu terus dilakukan sebelum kondisi kekeringan semakin meluas. Selain menjaga luas tanam, langkah tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan produksi pangan daerah.
Upaya percepatan dilakukan bersama pemerintah pusat, Balai Besar/Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP), instansi vertikal, serta dinas pertanian di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Sementara itu, pemantauan kondisi lahan persawahan selama Agustus menunjukkan sekitar 2.400 hektare lahan. Tersebar di tujuh kabupaten/kota, telah terdata oleh petugas di lapangan.
Dari luasan tersebut, sekitar 200 hektare berada dalam kondisi kekeringan berat. Sedangkan lahan lainnya, mengalami kekeringan sedang dan ringan.
Lahan dengan kekeringan ringan masih memiliki peluang untuk dipanen meski potensi kegagalannya diperkirakan sekitar 20 persen. Pada kondisi kekeringan sedang, risiko gagal panen berada pada kisaran 20 hingga 50 persen.
Adapun lahan dengan kekeringan berat menjadi perhatian karena berpotensi mengalami gagal panen hingga 50 sampai 100 persen.
“Yang menjadi perhatian adalah lahan dengan kondisi kekeringan berat karena berpotensi mengalami gagal panen sekitar 50 hingga 100 persen. Namun, kami berharap kondisi tersebut tidak terjadi,” jelas Fahmi.
Meski kekeringan mulai berdampak pada lahan pertanian. Kegiatan panen pada Agustus masih berjalan. Fahmi menyebut hingga kini belum terdapat laporan lahan puso atau gagal panen pada bulan tersebut.
Kasus puso sebelumnya terjadi pada Juli dengan luas sekitar 25 hektare di Kabupaten Paser.
Menurut Fahmi, Dinas Pertanian Kabupaten Paser akan menindaklanjuti kondisi tersebut melalui bantuan bagi petani yang terdampak.
Untuk menangani dampak kekeringan, pemerintah menyiapkan dukungan berdasarkan kebutuhan di masing-masing lokasi. Petani yang masih memiliki sumber air tetapi terkendala peralatan dapat diupayakan memperoleh bantuan pompa.
Sementara jika peralatan sudah tersedia namun petani terkendala bahan bakar, pemerintah menyiapkan skema dukungan berupa subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Fahmi menambahkan, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) bersama tim UPTD Perlindungan Tanaman juga terus melakukan pemantauan di lapangan. Pendataan dilakukan untuk mengetahui kondisi setiap lahan sekaligus memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan petani.
“Tim di lapangan akan terus melakukan pendataan dan melihat kebutuhan masing-masing lokasi, sehingga bantuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi petani,” pungkas Fahmi.

