Insitekaltim, Samarinda – Kondisi udara di Samarinda yang dipenuhi debu dan asap kebakaran hutan dan lahan mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada Agustus 2026 tercatat meningkat 22,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, peningkatan kasus tersebut tidak terlepas dari kondisi lingkungan yang semakin kering. Debu yang beterbangan, ditambah asap akibat kebakaran hutan dan lahan, membuat masyarakat semakin rentan mengalami gangguan pada saluran pernapasan.
“Sekarang ini kasus ISPA kita meningkat ke angka 22,8 persen. Kenapa? Karena debu itu kan ada dua jenis, ada PM10 dan PM2.5. Partikel 2.5 ini yang berbahaya,” kata Andi Harun, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, PM10 umumnya berasal dari partikel yang berukuran lebih besar, seperti debu jalan dan berbagai aktivitas yang menghasilkan serbuk. Sementara PM2.5 memiliki ukuran yang jauh lebih kecil sehingga dapat masuk lebih dalam ke saluran pernapasan.
“Partikel 2,5 ini yang berbahaya, yang tidak bisa tersaring oleh bulu hidung, mata dan lain sebagainya. Ini yang sampai masuk ke arah paru-paru,” ujarnya.
Paparan partikulat tersebut juga berpotensi menyebabkan iritasi pada mata dan tenggorokan serta mengganggu sistem pernapasan. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah di tengah cuaca kering yang masih berlangsung di Kota Tepian.
Untuk mengurangi risiko paparan debu dan partikulat, Andi Harun mengimbau masyarakat kembali menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar rumah.
“Ayo kita kembali pakai masker,” imbaunya.
Imbauan tersebut disampaikan seiring dengan penetapan status darurat kekeringan di Samarinda selama 14 hari. Pemerintah akan melakukan evaluasi setelah masa tersebut untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya berdasarkan kondisi di lapangan.
Andi Harun menyebut Samarinda memiliki empat level dalam penanganan kekeringan, yakni normal, waspada, siaga, dan kritis. Saat ini, kondisi Samarinda telah melewati level normal dan berada pada fase waspada menuju siaga, bahkan mulai memasuki level siaga.
Menurutnya, ancaman akibat kekeringan tidak hanya menyangkut kualitas udara. Ketersediaan dan kualitas air juga perlu diantisipasi karena kondisi tertentu, termasuk intrusi air laut, dapat memengaruhi kualitas air baku di sejumlah wilayah.
Masyarakat pun diminta mulai menyiapkan persediaan air di rumah. Namun, Andi Harun mengingatkan agar warga tidak melakukan penimbunan secara berlebihan agar ketersediaan air tetap dapat dimanfaatkan bersama.
“Selain ISPA bisa jadi penyakit yang berhubungan dengan air. Misalnya diare, kulit. Oleh sebab itu, ditampung air secukupnya, tapi tidak usah berlebihan-lebihan supaya masyarakat lain juga bisa,” ucapnya.
Ia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kering masih berlangsung. Penggunaan masker, menjaga kebersihan, serta menghemat dan menyimpan air secukupnya menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menghadapi dampak kekeringan.
“Selama kita memakai masker insyaallah kita bisa antisipasi,” tutupnya.

