Insitekaltim, Samarinda – Gagal ginjal, kini tidak lagi identik dengan penyakit usia lanjut. Tren menunjukkan, semakin banyak kasus ditemukan pada kelompok usia produktif yang memiliki pola konsumsi minuman manis tinggi.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, yang berbicara tentang biaya kesehatan yang ditanggung negara mengaku, meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis, termasuk gagal ginjal yang banyak diderita anak-anak berusia produktif.
Penyakit ini menguras Rp13 triliun uang negara dan biaya yang ditanggung meningkat lebih dari 400 persen dalam enam tahun terakhir.
Data BPJS Kesehatan periode 2019–2025 menunjukkan, penyakit ginjal menjadi penyumbang biaya katastropik terbesar dengan kenaikan pembiayaan lebih dari 400 persen.
Angka tersebut jauh melampaui peningkatan biaya penyakit jantung dan stroke yang berada di kisaran 38–40 persen. Pada 2025, biaya penanganan gagal ginjal yang ditanggung BPJS Kesehatan mencapai Rp13 triliun.
Ia menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi minuman manis di kalangan anak-anak Indonesia menjadi sorotan serius.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, lebih dari 50 persen anak usia tiga hingga 14 tahun tercatat, mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali setiap hari. Menjadikannya kelompok dengan tingkat konsumsi tertinggi ,dibandingkan kelompok usia lainnya.
Data SKI 2023 menunjukkan proporsi konsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari mencapai 51,4 persen pada anak usia 3–4 tahun, 53,0 persen pada usia 5–9 tahun, dan 50,7 persen pada usia 10–14 tahun.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di level 47,5 persen.
Menteri Budi Gunadi Sadikin, mengingatkan kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis. Secara berlebihan, dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk gagal ginjal.
Satu gelas minuman manis cepat saji, dapat mengandung gula dalam jumlah tinggi. Bahkan mendekati atau melebihi batas konsumsi harian, yang dianjurkan. Karena itu, masyarakat, khususnya anak muda, diminta lebih bijak dalam memilih minuman demi mencegah risiko penyakit kronis di masa mendatang.
Tingginya konsumsi minuman manis sejak usia dini menjadi sinyal perlunya edukasi dan perubahan pola hidup sehat agar generasi muda terhindar dari ancaman penyakit tidak menular yang semakin meningkat.

