Insitekaltim, Samarinda – Akhir pekan menjadi waktu yang sangat disukai banyak orang karena setelah penat melakukan rutinitas selama hari kerja, mereka akhirnya dapat rehat entah berkumpul bersama orang terkasih maupun melakukan hobi.
Bagi banyak orang, Minggu pagi masih terasa menyenangkan. Waktu berjalan santai, agenda tidak terlalu padat dan tubuh seolah mendapat kesempatan untuk beristirahat. Namun, suasana itu perlahan berubah ketika sore tiba. Pikiran mulai melayang pada pekerjaan yang belum selesai, tugas yang menunggu atau jadwal padat yang akan dimulai keesokan hari.
Perasaan gelisah menjelang berakhirnya akhir pekan ini dikenal sebagai Sunday Blues. Meski bukan gangguan kesehatan mental, kondisi tersebut cukup umum dialami oleh pelajar, mahasiswa, hingga pekerja.
Psikolog menjelaskan bahwa kecemasan tersebut muncul karena otak mulai melakukan transisi dari mode istirahat menuju mode bekerja. Semakin besar tekanan yang dirasakan seseorang terhadap aktivitas sehari-hari, semakin besar pula kemungkinan munculnya Sunday Blues.
Tak heran jika banyak orang merasa waktu berjalan lebih cepat pada hari Minggu. Ketika pikiran sudah sibuk mempersiapkan hari Senin, seseorang sering kali kehilangan kesempatan menikmati sisa waktu liburnya.
Media sosial juga turut memperkuat fenomena ini. Notifikasi pekerjaan, unggahan tentang target mingguan, hingga berbagai aktivitas yang terlihat produktif sering membuat seseorang merasa harus segera kembali berlari setelah beristirahat sejenak.
Meski demikian, para ahli menilai Sunday Blues bukan sesuatu yang harus ditakuti. Perasaan tersebut justru bisa menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan keseimbangan yang lebih baik antara pekerjaan dan waktu pribadi.
Menariknya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami Sunday Blues. Mereka menganggap rasa tidak nyaman itu sebagai hal biasa, padahal perasaan tersebut dapat membuat akhir pekan terasa lebih singkat dan kurang menyenangkan.
Beberapa cara sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi gejala Sunday Blues, misalnya dengan menyelesaikan pekerjaan penting sebelum akhir pekan berakhir, membuat rencana yang realistis untuk hari Senin atau menyisihkan waktu pada Minggu sore untuk melakukan aktivitas yang disukai seperti berolahraga, membaca buku atau berkumpul bersama keluarga. Kegiatan-kegiatan itu dapat menjadi pengingat bahwa waktu istirahat juga memiliki nilai yang sama pentingnya dengan produktivitas.
Pada akhirnya, yang membuat hari Senin terasa berat sering kali bukan pekerjaannya, melainkan kecemasan yang datang terlalu cepat sebelum pekan baru benar-benar dimulai.

