Insitekaltim, Samarinda – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) tak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mencatat lebih dari 13.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama periode 27 Juli hingga 15 September 2026.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta mewaspadai paparan partikel halus dari asap, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan. Risiko gangguan pernapasan juga menjadi perhatian seiring kondisi kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah.
Kepala Dinkes Kaltim Muhammad Andi Ishak mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kabut asap. Ia meminta warga menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah, khususnya saat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
“Kemarin ada saran kami memang masyarakat jangan terlalu menganggap enteng namanya cuaca asap ini. Artinya bahwa ini nyata, ada ancaman bahaya terkait partikel-partikel halus yang ada. Nah, tentunya kalau memang beraktivitas di luar rumah kondisi asapnya memang masuk kategori berbahaya ataupun juga masuk kategori tidak sehat, ya kalau lagi beraktivitas di luar pakailah masker,” kata Andi Ishak, Kamis, 15 Oktober 2026.
Data laporan khusus karhutla, Dinkes Kaltim mencatat lebih dari 13.000 kasus ISPA hingga pertengahan September. Namun, angka tersebut merupakan jumlah kasus dalam periode pelaporan dan tidak serta-merta menunjukkan seluruh penderita mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap karhutla.
Sementara itu, kondisi kualitas udara di Samarinda menunjukkan perubahan, data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Samarinda pada Jumat 16 Oktober 2026 menunjukkan angka 33. Yakni masuk kategori baik berdasarkan rentang ISPU nasional 1–50.
Angka tersebut menggambarkan kondisi pada waktu pengukuran dan tidak serta-merta meniadakan risiko paparan asap di lokasi lain atau pada waktu berbeda.
Andi Ishak mengatakan paparan asap berpotensi berkontribusi terhadap gangguan pernapasan, termasuk ISPA dan pneumonia. Meski demikian, ia tidak menyebutkan besaran peningkatan kasus pneumonia yang secara khusus berkaitan dengan kabut asap.
“Memang ada pengaruh sedikit dari asap ini terhadap ISPA maupun pneumonia, dua itu. Kalau tidak ada kepentingan mendesak, ya jangan banyak beraktivitas di luar untuk mengurangi terhirupnya debu-debu ataupun juga partikel-partikel halus itu,” ujarnya.
Menghadapi risiko gangguan kesehatan selama periode kabut asap, Dinkes Kaltim memastikan puskesmas telah mengantisipasi kebutuhan pelayanan, termasuk ketersediaan obat-obatan dan sarana prasarana medis.
Andi Ishak mengatakan, hingga saat ini fasilitas kesehatan tingkat pertama masih mampu menangani kebutuhan pelayanan yang ada. Ia berharap kondisi asap segera membaik sehingga risiko paparan terhadap masyarakat dapat berkurang.
“Tentunya kita juga sudah mengantisipasi terkait ketersediaan sarana prasarana maupun juga obat-obatan yang ada di puskesmas-puskesmas. Tapi ya insyaallah itu masih bisa kita tangani sampai saat ini, dan mudah-mudahan kita berharap sih kondisi asap juga akan lebih membaik,” katanya.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan ketika asap semakin pekat, menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gejala pernapasan yang memburuk.

