Insitekaltim, Samarinda – Rencana pengembangan layanan angkutan taksi di Kota Samarinda tak langsung disambut dengan penambahan armada. Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda terlebih dahulu akan mengkaji kebutuhan masyarakat serta keseimbangan antara jumlah penumpang dan armada yang tersedia.
Kepala Dishub Kota Samarinda Hotmarulitua Manalu mengatakan, pembahasan terkait layanan Blue Bird perlu mempertimbangkan aspek sosial maupun teknis, khususnya kajian supply dan demand transportasi.
Hal itu disampaikannya usai rapat terkait layanan Blue Bird di Balai Kota Samarinda, Senin 21 September 2026.
“Ini harus dipertimbangkan supply (penawaran) dan demand-nya (permintaan) yang terkait dengan kebutuhan berapa armada yang bisa kita rekomendasikan,” kata Manalu.
Menurutnya, kajian tersebut diperlukan untuk mengetahui jumlah armada yang ideal berdasarkan kebutuhan masyarakat. Jika jumlah armada yang disediakan terlalu banyak dibandingkan permintaan penumpang, kondisi tersebut justru berpotensi menambah beban lalu lintas di ruas jalan.
“Jangan sampai nanti supply-nya lebih banyak daripada demand. Akhirnya menambah beban kinerja ruas jalan,” ujarnya.
Berdasarkan ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 117 Tahun 2018, terdapat penyelenggaraan angkutan orang tidak dalam trayek yang mencakup layanan seperti taksi berbasis argometer maupun angkutan sewa khusus (ASK).
Namun, sebelum menentukan kebutuhan armada, Dishub Samarinda masih perlu melihat kondisi transportasi yang berjalan saat ini. Ia menyebut layanan taksi argometer yang sebelumnya pernah tersedia di Samarinda kini sudah tidak beroperasi seperti dahulu.
“Kalau angkutan taksi argometer sekarang ini yang ada hanya dari Bandara APT Pranoto ke rumah. Kalau yang sifatnya argometer saat ini belum ada. Dulu ada, tapi sekarang sudah enggak ada lagi,” jelasnya.
Karena itu menurut Manalu, rencana kehadiran kembali layanan taksi perlu dikaji secara matang agar sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat.
“Demand masyarakat itu berapa, sehingga kita bisa menentukan supply, menentukan armada yang ideal,” katanya.
Selain taksi dan angkutan sewa khusus, Dishub Samarinda juga menekankan pentingnya pengembangan angkutan umum dalam trayek sebagai bagian dari visi transportasi kota ke depan.
“Visi ke depannya adalah tersedianya public transport,” ucap Manalu.
Ia menegaskan, karakteristik angkutan tidak dalam trayek berbeda dengan angkutan umum dalam trayek. Menurutnya, pengembangan transportasi publik dalam trayek menjadi salah satu hal yang lebih utama untuk mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat Samarinda.
“Angkutan tidak dalam trayek itu bisa bersifat taksi dan ASK. Tetapi yang lebih utama adalah angkutan dalam trayek yang sifatnya public transport,” pungkasnya.

