Insitekaltim, Samarinda – Langkah menekan penularan, sekaligus memastikan orang dengan HIV (ODHIV) dapat menjalani hidup sehat tanpa stigma.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperkuat penanggulangan HIV melalui skrining terhadap kelompok berisiko, perluasan akses pengobatan, serta edukasi kepada masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin, mengatakan, penanganan HIV dilakukan secara kolaboratif bersama berbagai lembaga. Seperti Yayasan Penabulu, Global Fund, dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).
“Program HIV kami lakukan bersama berbagai mitra. Salah satunya melalui skrining terhadap kelompok yang memiliki risiko terpapar HIV. Agar kasus bisa ditemukan lebih dini dan segera mendapatkan pengobatan,” ujarnya di Samarinda, Jumat, 10 Juli 2026.
Menurut Jaya, setiap individu yang memiliki faktor risiko dianjurkan menjalani pemeriksaan HIV. Jika hasilnya positif, pasien akan segera diberikan terapi antiretroviral (ART). Ini terbukti mampu menekan jumlah virus di dalam tubuh serta meningkatkan sistem kekebalan.
Ia menjelaskan, dengan kepatuhan menjalani terapi, orang dengan HIV dapat hidup sehat. Layaknya masyarakat pada umumnya dan memiliki risiko penularan yang sangat rendah.
“Obat ART dapat menurunkan jumlah virus di dalam darah hingga sangat rendah, bahkan tidak terdeteksi, sehingga meningkatkan daya tahan tubuh penderita,” katanya.
Selain pengobatan, Dinkes Kaltim juga terus meningkatkan penemuan kasus baru melalui skrining aktif terhadap kelompok berisiko agar penanganan dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi AIDS.
Jaya juga mengingatkan masyarakat, agar tidak memberikan stigma maupun diskriminasi kepada orang dengan HIV. Menurutnya, penderita yang rutin menjalani pengobatan tidak serta-merta menularkan virus kepada orang lain.
“Kalau mereka diobati secara teratur, risiko penularannya sangat kecil. Karena itu tidak boleh ada diskriminasi terhadap orang dengan HIV,” tegasnya.
Ia menambahkan, penularan HIV berbeda dengan penyakit menular melalui udara seperti tuberkulosis (TB). HIV tidak menular melalui kontak biasa, melainkan melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta dari ibu ke anak tanpa pencegahan.
Karena itu, Jaya mengajak masyarakat menerapkan perilaku hidup sehat, setia kepada pasangan, serta tidak ragu melakukan pemeriksaan apabila merasa memiliki faktor risiko.
“Yang paling penting adalah deteksi dini dan segera berobat. Dengan pengobatan yang tepat, orang dengan HIV tetap bisa hidup sehat dan produktif,” pungkasnya.

