Insitekaltim, Samarinda – Kunci utama dalam memelihara ikan cupang yang sehat, aktif, dan berwarna cerah tidak terletak pada mahal pakan yang diberikan, melainkan pada kualitas airnya. Cupang adalah ikan tangguh, namun mereka sangat sensitif terhadap perubahan mendadak pada kondisi air.
Untuk meniru habitat aslinya di rawa-rawa Asia Tenggara, air akuarium harus memenuhi standar parameter baku. pH atau tingkat keasaman yang ideal berada di kisaran 6,5 hingga 7,5 dengan angka netral 7,0 sebagai kondisi terbaiknya.
Selain itu, suhu air harus dijaga tetap stabil antara 24°C hingga 28°C karena suhu yang terlalu dingin akan membuat cupang lesu dan mudah terserang penyakit bintik putih.
Hal yang paling krusial adalah memastikan kandungan amonia dan nitrit dari sisa kotoran selalu berada di angka nol karena kedua zat ini merupakan racun yang mematikan bagi insang ikan.
Memilih dan Mempersiapkan Jenis Air
Tidak semua sumber air aman untuk langsung dimasukkan ke dalam wadah cupang tanpa pengolahan terlebih dahulu. Air PDAM atau keran memiliki kelebihan karena mudah didapat, namun mengandung kaporit dan klorin tinggi yang bisa membakar insang.
Oleh karena itu, air PDAM wajib diendapkan dalam wadah terbuka selama 24 hingga 48 jam agar zat kimianya menguap, atau bisa juga dibantu dengan cairan anti-klorin.
Sementara itu, air sumur atau air tanah memang bebas dari kaporit, namun sering kali kekurangan oksigen terlarut dan memiliki kandungan zat besi yang tinggi. Anda perlu mengendapkannya selama 24 jam dengan bantuan pompa udara untuk menyuplai oksigen.
Opsi terakhir yang paling praktis adalah air minum kemasan atau galon karena memiliki pH yang sangat stabil dan bisa langsung digunakan tanpa perlu melewati proses pengendapan sama sekali.
Zat Aditif Alami dan Kimia yang Diperlukan
Untuk menjaga kesehatan cupang secara optimal, Anda bisa menambahkan beberapa bahan alami maupun kimia ke dalam air. Daun ketapang kering yang sudah dicuci atau direbus sangat disarankan karena dapat menurunkan pH secara alami serta melepaskan zat tanin yang berfungsi sebagai antiparasit.
Selain itu, garam ikan atau garam krosok perlu ditambahkan untuk menjaga sistem osmosis tubuh ikan, mengurangi tingkat stres, dan bertindak sebagai antiseptik luka. Jika kondisi air kurang steril atau ikan menunjukkan gejala sakit, obat biru dapat ditambahkan dalam dosis kecil sebagai langkah pengobatan intensif.
Manajemen Penggantian Air
Frekuensi penggantian air sangat bergantung pada ukuran wadah yang Anda gunakan untuk memelihara cupang. Jika Anda menggunakan wadah kecil atau soliter tanpa filter, penggantian air dilakukan setiap 2 hingga 3 hari sekali dengan membuang 50% sampai 75% air lama, lalu menggantinya dengan air baru yang sudah diendapkan.
Jangan pernah menguras air secara total 100% setiap hari karena perubahan drastis tersebut akan membuat ikan mengalami syok osmotik.
Bagi Anda yang menggunakan akuarium besar dengan sistem filter terpasang, perawatan jauh lebih mudah karena Anda hanya perlu mengganti sekitar 20% hingga 30% air setiap seminggu sekali.
Proses pembersihan dasar wadah juga sebaiknya menggunakan teknik penyifonan dengan selang kecil agar sisa pakan yang membusuk terangkat tanpa mengganggu ekosistem air.
Tanda-Tanda Air Mulai Rusak dan Berbahaya
Pemilik harus peka terhadap perubahan kondisi air sebelum kesehatan ikan cupang menurun. Secara fisik, air yang mulai rusak akan tampak keruh, berkabut akibat ledakan bakteri, serta mengeluarkan bau amis yang tajam.
Gejala lain yang sering muncul adalah adanya busa berlebih di permukaan air yang teksturnya berbeda dengan sarang busa alami buatan cupang jantan. Dari segi perilaku, cupang yang airnya sudah tercemar akan sering diam di permukaan untuk mengambil napas, siripnya menguncup, warnanya memudar, atau justru menjadi sangat pasif dan lemas di dasar wadah.

