Insitekaltim, Samarinda – Menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Jadi kunci utama mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD), kini masih menjadi penyakit yang diwaspadai masyarakat Indonesia, terutama saat musim hujan.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, dr. Jaya Mualimin menegaskan, DBD sebenarnya dapat dicegah dengan langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.
Genangan air yang muncul di berbagai tempat sering kali menjadi lokasi ideal, bagi nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak dan meningkatkan risiko penularan penyakit.
Kunci utamanya, menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
“Pencegahan yang paling efektif dimulai dari kesadaran masyarakat itu sendiri,” ujarnya di Samarinda, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurut dr. Jaya, langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran DBD adalah dengan memastikan lingkungan tempat tinggal tetap bersih dan bebas dari genangan air yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Nyamuk Aedes aegypti dikenal senang bertelur di wadah yang menampung air bersih seperti bak mandi, ember, pot bunga, tempat minum hewan peliharaan, hingga barang bekas yang dibiarkan terbuka.
Karena itu, masyarakat diimbau rutin memeriksa lingkungan sekitar rumah agar tidak ada tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Salah satu upaya yang terus digalakkan pemerintah adalah Gerakan 3M Plus. Program ini dinilai masih menjadi cara paling efektif untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.
Gerakan 3M meliputi menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.
Sementara itu, “Plus” mencakup berbagai tindakan tambahan seperti menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi, menanam tanaman pengusir nyamuk, hingga menjaga kebersihan lingkungan secara menyeluruh.
Selain peran masyarakat, keberadaan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) juga memiliki peran penting dalam upaya pencegahan DBD. Mereka membantu memantau keberadaan jentik nyamuk di lingkungan permukiman sekaligus memberikan edukasi kepada warga mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
DBD bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Gejalanya antara lain demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, hingga muncul bintik-bintik merah pada kulit. Jika tidak ditangani dengan cepat, DBD dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan mengancam jiwa.
Karena itu, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada DBD, terutama saat terjadi peningkatan kasus di lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan DBD sangat bergantung pada kesadaran bersama. Membersihkan lingkungan hanya membutuhkan beberapa menit setiap minggu, tetapi langkah sederhana tersebut dapat mencegah risiko penyakit yang jauh lebih besar.
Seperti yang diingatkan dr. Jaya Mualimin, pencegahan DBD yang paling efektif bukan berasal dari fogging atau pengobatan, melainkan dari kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas dari sarang nyamuk.

