Insitekaltim, Samarinda – Selama bertahun-tahun, standar kecantikan di Indonesia identik dengan kulit putih, tubuh langsing, dan wajah yang dianggap ideal oleh industri hiburan maupun iklan. Produk pemutih kulit membanjiri pasar, sementara iklan televisi sering menggambarkan perempuan cantik sebagai sosok berkulit cerah dan berpenampilan sempurna.
Namun kini, standar tersebut mulai berubah. Banyak perempuan mulai merasa bahwa cantik tidak harus putih, tidak harus selalu mengikuti tren tertentu, dan tidak harus seragam.
Perubahan ini terlihat jelas di media sosial, industri kecantikan, hingga cara generasi muda memandang diri mereka sendiri.
Psikolog dari Universitas Indonesia Rose Mini Agoes Salim menjelaskan bahwa persepsi cantik banyak dipengaruhi lingkungan sosial dan media yang terus menerus menampilkan gambaran tertentu kepada masyarakat.
Ketika masyarakat terlalu lama melihat satu tipe kecantikan yang dianggap ideal, maka standar itu perlahan dianggap sebagai kebenaran umum.
Fenomena ini juga pernah dibahas dalam jurnal penelitian mengenai body image dan media representation yang menunjukkan bahwa paparan standar kecantikan sempit dapat memengaruhi rasa percaya diri perempuan, terutama remaja.
Media Sosial Mengubah Definisi Cantik
Jika dulu televisi dan majalah menjadi penentu tren kecantikan, kini media sosial membuka ruang yang jauh lebih luas. Banyak kreator konten tampil dengan kulit sawo matang, rambut keriting, freckles, hingga wajah berjerawat tanpa takut dianggap tidak menarik.
Fenomena ini membuat masyarakat mulai terbiasa melihat keberagaman wajah dan warna kulit.
Menurut laporan The Real State of Beauty dari perusahaan riset global Dove dan Edelman Data & Intelligence tahun 2024, sekitar 7 dari 10 perempuan di dunia merasa standar kecantikan di media sosial terlalu tidak realistis. Namun di saat yang sama, semakin banyak perempuan mulai mencari representasi kecantikan yang lebih alami dan autentik.
Body Positivity dan Self Love Semakin Diterima
Munculnya gerakan body positivity juga ikut mengubah cara pandang masyarakat terhadap tubuh dan penampilan. Gerakan ini mengajak perempuan menerima kondisi tubuh mereka tanpa terus membandingkan diri dengan standar sosial yang sulit dicapai.
Psikolog klinis dan dosen Universitas Gadjah Mada Koentjoro pernah menyebut bahwa penerimaan diri memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental. Seseorang yang terus merasa harus memenuhi standar sosial tertentu lebih rentan mengalami kecemasan dan rendah diri.
Karena itu, banyak kampanye kesehatan mental kini menekankan pentingnya self acceptance atau menerima diri sendiri secara sehat.
Perubahan pola pikir masyarakat membuat industri kecantikan mulai menyesuaikan diri. Banyak brand kosmetik kini menghadirkan shade foundation yang lebih beragam untuk berbagai warna kulit.
Selain itu, istilah “whitening” perlahan mulai ditinggalkan dan diganti dengan istilah seperti “brightening”, “healthy skin”, atau “glowing skin”.
Menurut laporan bisnis kecantikan dari McKinsey & Company tahun 2025, konsumen generasi muda kini lebih tertarik pada produk yang menonjolkan kesehatan kulit dibanding sekadar memutihkan warna kulit.
Tren skincare juga berubah. Jika dulu fokus utama adalah membuat kulit lebih putih, kini masyarakat mulai memperhatikan skin barrier, hidrasi, sunscreen, dan kesehatan kulit jangka panjang.
Cantik Kini Lebih Personal
Perubahan standar kecantikan menunjukkan bahwa definisi cantik terus berkembang mengikuti zaman. Kulit sawo matang, tubuh berisi, wajah natural tanpa makeup, hingga rambut ikal kini semakin diterima dan bahkan dianggap menarik oleh banyak orang.
Cantik tidak lagi hanya tentang memenuhi ekspektasi sosial, tetapi tentang bagaimana seseorang merasa nyaman, sehat, dan percaya diri dengan dirinya sendiri.
Meski standar lama belum sepenuhnya hilang, perubahan cara pandang masyarakat menunjukkan bahwa kecantikan kini menjadi lebih inklusif dibanding sebelumnya.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, banyak perempuan mulai merasa bahwa mereka tidak perlu menjadi orang lain untuk dianggap cantik.

