Insitekaltim, Samarinda – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mengingatkan masyarakat agar tidak membuang limbah hewan kurban sembarangan, terutama ke sungai.
Limbah pemotongan seperti darah, isi perut, hingga kotoran hewan dinilai berpotensi mencemari lingkungan dan memicu penyebaran penyakit menular.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, persoalan limbah kurban kerap muncul setiap momentum Iduladha, terutama di kawasan permukiman yang berada di sekitar aliran sungai.
Kebiasaan mencuci jeroan maupun membuang sisa pemotongan langsung ke sungai dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
“Kalau kotoran sapi atau limbah pemotongan masuk ke sungai, itu bisa menyebabkan bakteri seperti E. coli menyebar ke mana-mana. Akibatnya masyarakat bisa diare dan terkena penyakit lainnya,” ujarnya, Selasa, 19 Mei 2026.
Pengelolaan limbah kurban harus menjadi perhatian bersama, baik panitia pemotongan maupun masyarakat umum. Apalagi saat Iduladha, aktivitas penyembelihan hewan meningkat drastis dalam waktu singkat.
Selain persoalan limbah, Dinkes juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan selama proses pemotongan dan pengolahan daging kurban agar tidak menimbulkan kontaminasi bakteri.
“Proses pemotongan harus sesuai prosedur. Darahnya harus keluar semuanya karena darah itu berbahaya kalau tidak ditangani dengan baik,” katanya.
Pencacahan daging sebaiknya tidak dilakukan langsung di tanah, melainkan menggunakan meja atau alas yang bersih untuk menjaga higienitas produk pangan yang nantinya dikonsumsi masyarakat.
“Ketika melakukan pencacahan daging itu tidak boleh di tanah, tapi di meja,” tegasnya.
Pemerintah juga meminta penggunaan kantong plastik untuk distribusi daging memperhatikan faktor keamanan pangan. Plastik yang digunakan sebaiknya transparan dan tidak mengandung bahan berbahaya.
Selain itu, distribusi daging kurban diminta dilakukan secepat mungkin agar kualitas daging tetap terjaga dan tidak membusuk akibat penyimpanan terlalu lama.
“Jangan sampai dibiarkan terlalu lama sampai busuk karena itu juga bisa membahayakan kesehatan,” katanya.
Tak hanya limbah, Dinkes bersama Dinas Peternakan juga melakukan pengawasan terhadap kesehatan hewan kurban yang masuk ke Kaltim.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan hewan bebas dari penyakit menular seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) maupun antraks.
“Nanti semua ternak yang dijadikan kurban akan diperiksa oleh petugas kesehatan hewan. Yang jelas syaratnya sehat dan sudah diskrining,” pungkasnya.

