Insitekaltim, Samarinda – Sebanyak 23.255 eksemplar buku terjual selama Festival Literasi Kaltim x Out of The Boox Samarinda 2026. Dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 29 Agustus hingga 17 September itu, tercatat sekitar 10.500 orang datang ke lokasi festival di Aula Tower Kadrie Oening Dispora Provinsi Kaltim.
Jumlah buku yang terjual mencapai 4.933 judul. Angka tersebut menjadi salah satu catatan utama dalam pelaksanaan festival literasi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim
“Jumlah kunjungan selama sekitar 19 hari tercatat sebanyak 10.500 pengunjung atau rata-rata 583 pengunjung per hari. Buku yang terjual sejumlah 4.933 judul dan 23.255 eksemplar,” kata Kepala DPK Kaltim Lisa Hasliana, Kamis, 17 September 2026.
Tidak hanya transaksi buku, festival tersebut juga diisi workshop, diskusi, parenting, literasi digital, literasi lingkungan hingga kegiatan bersama komunitas. Ada pula Anugerah Festival Literasi Kaltim untuk lomba perpustakaan desa, kampung, kelurahan dan kecamatan serta lomba bertutur bagi siswa SD/MI.
Di tengah tingginya penggunaan gawai, pemerintah daerah melihat tantangan literasi tidak lagi berhenti pada persoalan membuat anak mau membaca.
Kemampuan mencari, memahami dan memilah informasi menjadi persoalan lain yang ikut menentukan kualitas literasi generasi muda.
Asisten III Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim Muhaimin mengatakan, teknologi tidak perlu dijauhkan dari anak-anak. Penggunaannya yang perlu diarahkan agar tidak berhenti sebagai sarana hiburan.
“Kita tidak mungkin menghindarkan anak-anak kita dari gadget. Kita juga tidak mungkin meminta mereka tumbuh tanpa bersentuhan dengan teknologi. Yang harus kita lakukan adalah memastikan bahwa mereka tahu bagaimana menggunakannya,” ujarnya dalam penutupan Festival Literasi Kaltim 2026.
Perubahan pola akses informasi itu juga membuat perpustakaan tidak cukup hanya mengandalkan koleksi fisik. Akses digital menjadi bagian yang perlu diperluas agar sumber pengetahuan dapat dijangkau lebih banyak masyarakat.
“Kalau dulu kita mengajak anak-anak datang ke perpustakaan untuk mencari buku, maka ke depan kita juga harus memastikan bahwa ketika anak membuka gadget mereka bisa menemukan perpustakaan di dalam gadget mereka,” tutur Muhaimin.
Persoalan berikutnya adalah memastikan budaya membaca tidak berhenti ketika festival selesai. Penjualan puluhan ribu buku menunjukkan adanya permintaan terhadap bahan bacaan, tetapi kebiasaan membaca dan kemampuan mengolah informasi membutuhkan proses yang berlangsung di luar kegiatan festival.
Festival Literasi Kaltim 2026 ditutup pada Kamis 17 September 2026. Setelah kegiatan berakhir, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menghadirkan buku kepada masyarakat, tetapi menjaga agar akses terhadap bacaan dan kemampuan mengolah informasi terus berkembang di sekolah, rumah, perpustakaan maupun ruang digital.

