
Insitekaltim, Samarinda – Meningkatnya kualitas pencemaran udara di Samarinda menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda, terutama terhadap aktivitas belajar siswa. Ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 148 atau masuk kategori tidak sehat, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) diminta menyiapkan alternatif pembelajaran dari rumah.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Mohammad Novan Syahronny Pasie mengatakan, langkah tersebut penting sebagai antisipasi apabila kondisi udara terus memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Menurut Novan, keputusan terkait aktivitas sekolah sebaiknya tidak dilakukan secara seragam. Sebab, kondisi udara di setiap kecamatan dapat berbeda sehingga perkembangan kualitas udara perlu dipantau secara berkala.
“Tidak semua wilayah Samarinda kondisi udaranya sama. Karena itu, perkembangannya harus dipantau setiap hari dan kebijakan pendidikan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah,” ungkap Novan, Senin, 7 September 2026.
Ia menjelaskan, ketika kualitas udara sudah berada pada kategori tidak sehat, aktivitas siswa di luar ruangan perlu dibatasi. Apabila kondisi semakin buruk, pembelajaran dari rumah dapat diterapkan di wilayah yang dinilai tidak aman untuk kegiatan belajar tatap muka.
Angka infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) Samarinda mengalami kenaikan dari 98 menjadi 148. Kondisi tersebut menurutnya perlu segera diantisipasi lantaran paparan udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak.
“Jangan menunggu muncul gejala ISPA baru menggunakan masker. Lebih baik kita antisipasi sejak awal dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika udara memburuk,” katanya.
Tak hanya sektor pendidikan, DPRD juga meminta Dinas Kesehatan memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit, sebagai langkah menghadapi kemungkinan meningkatnya kasus ISPA.
Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turut didorong untuk memastikan perkembangan dampak karhutla terhadap kualitas udara dapat terus dipantau.
Di tengah kondisi tersebut, sekitar 10 ribu masker telah disiapkan relawan untuk dibagikan kepada masyarakat. Bantuan itu diharapkan dapat memberikan perlindungan tambahan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak buruk pencemaran udara.
“Kami berharap perlindungan terhadap warga, terutama kelompok rentan, terus menjadi perhatian selama kualitas udara belum kembali membaik,” tandasnya.

