Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    APBD Samarinda 2025 Dipatok Rp3,4 Triliun, Pemkot Fokus Kesehatan, Pendidikan, dan Infrastruktur

    Agustus 14, 2026

    Jelang Porprov, IKIP PGRI Kaltim Beri Dispensasi Kuliah bagi Mahasiswa Atlet

    Agustus 14, 2026

    Juli 2026 Uang Primer Tumbuh 17,1 Persen, Capai Rp2.254,5 Triliun

    Agustus 13, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Tren Doom Spending, Gen Z Doyan Boros Demi Self-Reward
    Lifestyle

    Tren Doom Spending, Gen Z Doyan Boros Demi Self-Reward

    LarasBy LarasDesember 22, 202402 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Ilustrasi berbelanja
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Fenomena “doom spending” atau kebiasaan belanja impulsif makin sering disebutkan belakangan ini di kalangan generasi muda. Dari CNN Indonesia, terdapat 9,89 juta generasi mereka masih kesusahan mencari kerja.

    Di tengah kondisi itu, kini gen Z dan milenial malah diperkirakan menjadi kesulitan ekonomi dibandingkan generasi sebelumnya. Ibaratnya, walau sulit, tak jadi pantangan bagi mereka untuk boros asal bisa bahagia.

    Tanpa disadari tren ini menjangkiti Hiza (21), seorang mahasiswa semester 3 di salah satu universitas di Samarinda. Ia mengakui bahwa belanja sering menjadi godaan yang sulit dihindari, terutama saat ada diskon besar-besaran.

    “Awalnya cuma iseng lihat-lihat, tapi ujungnya checkout,” kata Hiza, Minggu (22/12/2024).

    Ia merasa kebiasaan ini sering dianggap sebagai bentuk “self-reward” (perhargaan atas diri sendiri), namun dampaknya membuat keuangannya tidak terkontrol.

    “Saya pikir itu hadiah untuk diri sendiri, tapi akhirnya malah boros,” ungkapnya.

    Hiza juga menyebut bahwa kemudahan akses belanja online menjadi salah satu pemicu utama. Dengan sekali klik, ia bisa mendapatkan barang yang diinginkan, meskipun sering kali tidak benar-benar dibutuhkan.

    Kini, Hiza berusaha memperbaiki kebiasaan belanjanya dengan lebih berhati-hati. Langkah kecil ini ia lakukan agar bisa lebih bijak dalam mengatur keuangan.

    “Saya mulai mencoba membatasi belanja hanya untuk kebutuhan,” jelasnya.

    Sama halnya dengan teman satu kuliahnya Caca (22). Dia mengaku sering terjebak dalam perilaku ini tanpa sadar.

    “Kadang saya belanja online karena merasa bosan atau tertekan,” ungkap Caca.

    Menurutnya, aktivitas tersebut memberikan rasa nyaman sesaat, terutama saat ia menghadapi tekanan akademik. Namun, perasaan itu sering kali berubah menjadi penyesalan.

    “Rasanya menyenangkan, tapi setelah lihat total pengeluaran, saya jadi menyesal,” ujarnya.

    Barang yang dibeli Caca tidak selalu diperlukan dan hanya menumpuk di kamarnya. Ia mengaku bahwa diskon besar-besaran dan kemudahan belanja online menjadi faktor utama yang mendorongnya.

    “Awalnya cuma lihat-lihat, tapi ujungnya checkout,” tuturnya.

    Perilaku doom spending semakin sering ditemui di kalangan muda, dan para ahli menyarankan untuk lebih sadar terhadap pengeluaran agar keuangan tetap terkontrol.

    CNN Indonesia Doom spending Gen Z Self Reward
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Laras

    Related Posts

    Tegaskan HIV/AIDS Isu Kesehatan Masyarakat, IAC Minta Perda Baru Bebas Stigma dan Diskriminasi

    Agustus 13, 2026

    Penjangkauan HIV di Samarinda Makin Sulit, PKBI Soroti Pemangkasan Anggaran dan Penolakan Sosial

    Agustus 13, 2026

    Capaian SPM HIV Samarinda Tembus 99,8 Persen, Dinkes Ungkap Rahasianya

    Agustus 13, 2026

    DORAMI Kumpulkan 300 Kantong Darah, Kejar Target 500 Kantong per Bulan

    Agustus 13, 2026

    Skirining Serta Menjamin Ketersediaan Obat TBC dan HIV, Upaya Pemerintah Tekan Penyaku Menukae

    Agustus 13, 2026

    Tak Banyak Diketahui, BPJS Ketenagakerjaan Bantu Pekerja Beli Rumah hingga Rp500 Juta

    Agustus 12, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    APBD Samarinda 2025 Dipatok Rp3,4 Triliun, Pemkot Fokus Kesehatan, Pendidikan, dan Infrastruktur

    Andika SaputraAgustus 14, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda memproyeksikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025…

    Jelang Porprov, IKIP PGRI Kaltim Beri Dispensasi Kuliah bagi Mahasiswa Atlet

    Agustus 14, 2026

    Juli 2026 Uang Primer Tumbuh 17,1 Persen, Capai Rp2.254,5 Triliun

    Agustus 13, 2026

    Polda Kaltim Luncurkan URC Reserse, Respons Laporan Kejahatan 24 Jam

    Agustus 13, 2026

    Tegaskan HIV/AIDS Isu Kesehatan Masyarakat, IAC Minta Perda Baru Bebas Stigma dan Diskriminasi

    Agustus 13, 2026
    1 2 3 … 3,277 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.