Insitekaltim, Samarinda – Akses penerbangan menuju Kalimantan Timur (Kaltim) tengah berada dalam tekanan tinggi. Tiket ke Bandara APT Pranoto dan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan dilaporkan semakin sulit didapat dalam beberapa hari terakhir.
Lonjakan permintaan membuat ketersediaan kursi penerbangan di sejumlah maskapai nyaris habis. Situasi ini memaksa calon penumpang berburu tiket secara intens—fenomena yang kini dikenal sebagai “war ticket”.
Bahkan, pemesanan yang dilakukan hari ini belum tentu bisa digunakan dalam waktu dekat. Banyak calon penumpang baru mendapatkan jadwal keberangkatan paling cepat pada pertengahan pekan depan.
“Saya sudah war tiket mulai Selasa tadi, dapatnya pesawat Garuda pagi. Selebihnya tidak ada. Rabu baru ada lagi. Ga tau kalau sekarang,” ujar Pendi, salah satu calon penumpang di Jakarta pada 9 April 2026.
Tak hanya langka, harga tiket juga melonjak tajam hingga jauh di atas tarif normal. Dalam beberapa kasus, penumpang harus menyusun perjalanan berlapis dengan membeli tiket ke kota lain terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke Kaltim.
Namun, opsi transit domestik kini juga semakin terbatas. Jalur yang biasanya menjadi penghubung seperti Surabaya, Makassar, hingga Pontianak dilaporkan tidak lagi menyediakan penerbangan lanjutan ke Samarinda maupun Balikpapan dalam waktu dekat.
Sebagai gantinya, sebagian penumpang justru memilih rute tidak biasa dengan transit internasional melalui Kuala Lumpur atau Singapura sebelum kembali masuk ke Kaltim.
“Kalau pekan ini, opsi yang ada justru lewat Kuala Lumpur atau Singapura. Itu pun harus transit internasional dulu baru bisa lanjut ke Kaltim. Harga tiketnya minimal Rp4 juta,” kata Beni, calon penumpang lainnya.
Alternatif lain memang masih tersedia, yakni menggunakan kelas bisnis. Namun, harga yang ditawarkan tergolong sangat tinggi dan tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat.
“Kalau tidak bisa lewat Kuala Lumpur atau Singapura, bisa pakai kelas bisnis. Tapi harganya Rp12 juta sampai Rp15 juta,” tambahnya.
Kondisi ini menjadi kendala serius, terutama bagi penumpang dari kalangan pekerja. Banyak di antara mereka yang akhirnya tertahan karena tidak mampu menjangkau harga tiket yang melonjak.
Athar, salah satu penumpang, mengaku telah tertahan di Jakarta selama sepekan akibat kesulitan mendapatkan tiket.
“Saya sudah seminggu di Jakarta. Baru dapat tiket hari Minggu ini. Itupun setelah istri di Samarinda tidak berhenti war tiket mulai pagi,” ungkapnya.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait penyebab kelangkaan tiket penerbangan ke Kaltim. Namun, tingginya permintaan yang tidak sebanding dengan kapasitas penerbangan diduga menjadi faktor utama.
Situasi ini membuat perjalanan udara ke Kaltim berubah menjadi ajang adu cepat. Kecepatan memantau aplikasi dan strategi pemesanan kini menjadi penentu utama bagi calon penumpang untuk bisa mendapatkan kursi penerbangan.

