Insitekaltim, Samarinda – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda Ismid Kusasih mengatakan, skrining menjadi salah satu strategi utama dalam mempercepat penemuan kasus HIV. Sekaligus membuka akses pengobatan bagi masyarakat yang terdiagnosis positif.
“Kalau skrining, alhamdulillah kita tahun ini masih ada dana untuk membeli reagen HIV,” ujar Ismid di Samarinda, Kamis, 13 Agustus 2026.
Ia mengatakan, upaya Pemerintah Kota Samarinda memperluas deteksi dini HIV terus dilakukan. Hingga Juli 2026, sebanyak 25.965 orang telah menjalani skrining HIV dan dari pemeriksaan tersebut ditemukan 258 kasus baru.
Dinkes Samarinda menargetkan, sekitar 43 ribu pemeriksaan HIV sepanjang 2026. Dengan realisasi 25.965 pemeriksaan hingga Juli, capaian skrining telah mendekati 60 persen dari target tahunan.
Menurut Ismid, semakin luas pemeriksaan dilakukan, semakin besar peluang kasus HIV ditemukan lebih awal. Penemuan dini dinilai penting, agar pasien dapat segera diarahkan mendapatkan layanan dan pengobatan.
Dari 258 kasus baru yang ditemukan hingga Juli, sebagian besar berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL).
Dinkes Samarinda kemudian mengarahkan pasien yang dinyatakan positif untuk mendapatkan pengobatan. Dari 258 kasus baru tersebut, sebanyak 213 orang telah menjalani pengobatan.
Ismid menegaskan, keberhasilan pelayanan HIV tidak hanya dilihat dari banyaknya kasus yang berhasil ditemukan. Pemerintah juga harus memastikan pasien yang telah terdiagnosis mendapatkan pengobatan secara berkelanjutan.
“Kalau di kesehatan sebenarnya kekuatannya adalah skrining,” katanya.
Ia menyebut strategi penguatan skrining juga menjadi perhatian Kementerian Kesehatan saat melakukan supervisi pelayanan HIV di Samarinda.
Capaian pelayanan HIV Kota Samarinda dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan pada 2025 mencapai 99,8 persen, dari target sekitar 25.123 orang.
Namun, upaya memperluas skrining menghadapi tantangan berupa keterbatasan anggaran. Kebutuhan bahan medis habis pakai (BMHP), terutama reagen pemeriksaan HIV, turut meningkat seiring bertambahnya target pemeriksaan.
Di tengah efisiensi anggaran, Dinkes Samarinda berupaya mempertahankan kegiatan skrining dengan memanfaatkan dukungan dan persediaan bahan medis yang masih tersedia dari tahun sebelumnya.
Ismid mengatakan, penguatan skrining harus terus dilakukan karena pemeriksaan merupakan pintu masuk dalam penanganan HIV.
Semakin cepat seseorang mengetahui statusnya, semakin cepat pula layanan kesehatan dapat memberikan pendampingan dan pengobatan.
Meski demikian, tantangan tidak berhenti setelah kasus ditemukan. Kepatuhan pasien untuk menjalani pengobatan secara rutin juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.
Ismid mengungkapkan, secara kumulatif terdapat sekitar 4.000 kasus HIV di Samarinda, tetapi baru sekitar separuh yang menjalani pengobatan.
Karena itu, Dinkes Samarinda tidak hanya mengejar peningkatan cakupan skrining, tetapi juga memperkuat upaya agar setiap kasus yang ditemukan dapat ditindaklanjuti dengan pengobatan dan pendampingan.
Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap penemuan HIV dapat dilakukan lebih dini, sekaligus menekan risiko penularan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang terdiagnosis HIV.

