Insitekaltim, Samarinda – Skrining menjadi salah satu kunci dalam menekan angka penularan dan kematian akibat penyakit menular. Tuberkulosis (TBC) dan HIV, jadi penyakit menular yang tetap terjamin penyediaan obat bagi penderitanya.
Berkaitan dengan skrining, semakin cepat seseorang ditemukan melalui pemeriksaan, semakin cepat pula pengobatan dapat diberikan.
Menjelaskan hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda memastikan, ketersediaan obat bagi pasien tuberkulosis (TBC) dan HIV tetap terjamin.
Kepala Dinkes Samarinda Ismid Kusasih mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir terkait biaya maupun ketersediaan obat TBC dan HIV.
Menurutnya, kedua penyakit tersebut masuk dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang menjadi kewajiban pemerintah untuk ditangani.
“Kalau obat-obat TBC, obat-obat HIV itu semua distribusi dari pusat. Jadi kalau kita menyampaikan ada sekian ribu yang diobati, dari pusat itu langsung didistribusikan. Jadi obat percaya saja, tidak perlu takut,” ujar Ismid di Samarinda, Rabu, 12 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, tantangan yang saat ini perlu diperkuat bukan hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk menjalani skrining atau pemeriksaan dini.
Menurut Ismid, skrining menjadi salah satu kunci dalam menekan angka penularan dan kematian akibat penyakit menular. Semakin cepat seseorang ditemukan melalui pemeriksaan, semakin cepat pula pengobatan dapat diberikan.
Ismid menyebut TBC masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius di Indonesia. Rendahnya cakupan skrining membuat masih banyak kasus yang belum ditemukan dan ditangani sejak dini.
Karena itu, Dinkes Samarinda terus memperkuat pelaksanaan skrining melalui kolaborasi lintas sektor. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Rumah Tahanan (Rutan) dan program pendidikan seperti Sekolah Rakyat.
Menurutnya, penguatan skrining di Samarinda mendapat perhatian dari Kementerian Kesehatan. Ia menyebut capaian skrining TBC dan HIV di Samarinda tergolong baik karena didukung kolaborasi berbagai pihak.
“Alhamdulillah Samarinda, mau HIV, mau TBC, skrining kita sudah tinggi. Makanya kita diapresiasi dari Kementerian Kesehatan,” ujarnya.
Di sisi lain, Ismid mengungkapkan penanganan HIV masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkot Samarinda. Hingga akhir 2025, tercatat sekitar 4.000 kasus HIV, sementara pasien yang telah mendapatkan pengobatan baru sekitar 2.000 orang.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam menjangkau pasien agar bersedia menjalani pengobatan secara berkelanjutan.
“Yang kita obati itu baru 2.000. Ini menjadi PR kita sendiri. Artinya, kita ketemu saja mereka susah diobatin,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya menghilangkan stigma terhadap orang dengan HIV. Masyarakat diminta tidak menjauhi orangnya, melainkan mencegah dan mengendalikan penyakitnya.
“Kalau mereka mau dilakukan skrining saja kita sudah bersyukur,” tuturnya.
Ismis berharap peningkatan kesadaran masyarakat untuk melakukan skrining dapat mempercepat penemuan kasus TBC maupun HIV. Dengan penemuan dan pengobatan lebih awal, risiko penularan sekaligus dampak penyakit terhadap masyarakat dapat ditekan.

