Insitekaltim, Kukar – Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai respons terhadap kondisi kabut asap tidak sepenuhnya dirasakan efektif oleh siswa.
Di tengah kebijakan yang menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah, sebagian pelajar justru menghadapi kendala ketika harus mengikuti pembelajaran dari rumah.
Salah satunya dirasakan Rasyika Rizkianda, siswi kelas XI IPA SMA Negeri 3 Marangkayu, yang mengikuti PJJ dari wilayah Perangat Selatan. Menurut Rasyika, pembelajaran dari rumah membuatnya lebih sulit berkonsentrasi dibandingkan saat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara langsung di sekolah.
“Ga enak, ribet. Kalau orang tua tahu libur pasti ada aja kegiatan, jadinya kita enggak konsen buat PJJ. Mending sekolah, enggak ada hambatan,” kata Rasyika saat ditemui secara daring, Sabtu 19 September 2026.
Rasyika menilai suasana rumah tidak selalu mendukung kegiatan belajar. Ketika tidak masuk sekolah, siswa tetap dapat diminta membantu berbagai aktivitas di rumah sehingga waktu dan konsentrasi untuk mengikuti pembelajaran daring menjadi terbagi.
Selain persoalan suasana belajar, kendala jaringan internet juga menjadi persoalan. Menurut dia, materi yang disampaikan guru melalui pembelajaran daring tidak selalu dapat dipahami dengan baik, terutama ketika koneksi internet terganggu.
“Bagus kalau di sekolah, karena yang disampaikan kalau di PJJ enggak begitu paham, apalagi kalau jaringan butut,” ujarnya.
Kondisi tersebut bahkan turut dirasakan dalam proses pembelajaran melalui pertemuan virtual. Dalam salah satu pembelajaran, guru Rasyika menyampaikan kepada siswa bahwa kegiatan melalui Google Meet harus dihentikan sementara karena terkendala jaringan.
“Karena terkendala jaringan, Meet daring hari ini kita close terlebih dahulu,” demikian pesan guru kepada siswa.
Setelah pertemuan daring dihentikan, siswa kemudian diarahkan mengerjakan tugas yang sebelumnya masih berupa foto tulisan untuk dibuat kembali melalui Canva dan dikumpulkan dalam format PDF.
Bagi Rasyika, pola pembelajaran seperti itu justru membuat kegiatan belajar terasa lebih rumit. Ia mengaku tidak menemukan banyak sisi positif selama mengikuti PJJ dan berharap dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka.
Meski demikian, penerapan PJJ di Kukar memang tidak diberlakukan secara serentak di seluruh wilayah. Pemkab Kukar memberikan kewenangan kepada masing-masing satuan pendidikan untuk menilai kondisi lingkungan di wilayahnya. Sekolah dapat menerapkan PJJ apabila kondisi udara dinilai tidak memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka.
Kebijakan tersebut mempertimbangkan wilayah Kukar yang luas sehingga kondisi kabut asap tidak selalu sama antardaerah. Sekolah juga diminta berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar dalam pelaksanaannya.
Bagi Rasyika, sekolah tatap muka tetap menjadi pilihan yang lebih nyaman untuk mengikuti pembelajaran. Ia berharap kondisi segera membaik sehingga kegiatan belajar dapat kembali berlangsung di ruang kelas, dengan guru dan teman-temannya.

