Insitekaltim, Samarinda – Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 di Palaran telah siap digunakan setelah rampung dibangun hanya dalam waktu sekitar lima bulan. Namun, sejumlah aspek keselamatan bagi peserta didik masih menjadi catatan yang diminta segera disempurnakan sebelum aktivitas belajar mengajar berjalan penuh.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti, mengatakan secara umum kualitas bangunan sudah baik. Kendati demikian, ia menemukan beberapa titik yang berpotensi membahayakan anak-anak jika tidak segera dilengkapi dengan perangkat pengaman.
“Ya kalau gedung Alhamdulillah dalam waktu singkat lima bulan sudah selesai dari awal sampai finishing dan siap digunakan. Cuma dari pemerintah kota, saya khususnya, ada sedikit catatan terkait keselamatan anak,” kata Neneng usai meninjau pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Jumat, 31 Juli 2026.
Area tangga menjadi perhatian utama. Ia meminta pengelola memasang pengaman di beberapa titik, termasuk pada bagian lantai dua yang langsung mengarah ke bawah serta bagian bawah tangga agar tidak membahayakan siswa yang beraktivitas.
“Misalnya di tangga, kemudian di lantai dua yang langsung ke bawah itu perlu pengamanan. Di bawah tangga juga seharusnya ada lis dengan warna yang berbeda supaya anak-anak yang berlari tidak terbentur. Namanya juga anak-anak, mereka bisa saja berlari atau saling dorong,” ujarnya.
Selain infrastruktur, persoalan pengelolaan kawasan setelah sekolah mulai beroperasi, terutama terkait sampah dan limbah. Menurutnya, operasional sekolah berasrama membutuhkan sistem pengelolaan lingkungan yang jelas sehingga diperlukan koordinasi lintas pemerintah.
Pemerintah Kota Samarinda akan duduk bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Kementerian Sosial untuk menyusun pembagian tanggung jawab melalui nota kesepahaman.
“Setelah beroperasional pasti ada penanganan sampah dan air limbah. Itu yang perlu kita duduk bersama antara pemerintah kota, pemerintah provinsi, dan kementerian. Nanti kita buat semacam MoU untuk pengelolaannya,” katanya.
Di sisi lain, konsep MPLS di Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah pada umumnya, orientasi tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membantu siswa beradaptasi dengan kehidupan berasrama dan lingkungan sosial baru.
Ia mengapresiasi kerja para guru dan tenaga kependidikan yang selama setahun terakhir telah membina siswa di sekolah rintisan hingga kini memasuki fasilitas permanen.
“Saya salut kepada kepala sekolah dan seluruh guru yang sudah membina anak-anak. Ini bukan sekadar mengenalkan sekolah, tetapi juga mengenalkan lingkungan baru karena mereka sekarang berpindah ke fasilitas yang berbeda dan jauh lebih lengkap,” tuturnya.
Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi peluang besar bagi keluarga kurang mampu untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Seluruh kebutuhan siswa, mulai dari pendidikan, tempat tinggal hingga konsumsi, ditanggung pemerintah sehingga orang tua tidak lagi dibebani biaya sekolah.
“Kami berterima kasih kepada pemerintah pusat. Program ini luar biasa karena bukan hanya membantu perekonomian keluarga, tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Mungkin hasilnya tidak terasa sekarang, tetapi 15 sampai 25 tahun ke depan kita berharap akan lahir generasi yang mampu menjadi pemimpin dari sekolah ini,” pungkasnya.

