Insitekaltim, Samarinda – Konsep sekolah berasrama, mampu membuka akses pendidikan sekaligus menekan angka anak putus sekolah.
Program Sekolah Rakyat Terintegrasi dua di Kota Samarinda, menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Termasuk anak jalanan, untuk kembali mengenyam pendidikan.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Samarinda Arif Surochman mengatakan, pengalaman penyelenggaraan angkatan sebelumnya menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat telah menerima peserta didik yang berasal dari kalangan anak jalanan.
“Tahun lalu juga ada yang berasal dari anak jalanan. Ini menjadi salah satu solusi bagi mereka,” ujarnya, di Samarinda, Senin, 3 Agustus 2026.
Menurut Arif, penanganan anak jalanan tidak dapat dilakukan oleh satu instansi saja. Selama ini Dinsos membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari sekolah, ketua RT, guru. Hingga keluarga agar proses pembinaan berjalan berkelanjutan dan anak-anak dapat kembali memperoleh hak pendidikan.
Ia berharap, keberadaan Sekolah Rakyat semakin memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga miskin maupun kelompok rentan lainnya yang selama ini sulit mengakses pendidikan formal.
Pada tahun ajaran 2026, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda menerima sekitar 270 siswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 222 siswa berasal dari Kota Samarinda, sementara 48 siswa lainnya berasal dari daerah sekitar, yakni Kutai Kartanegara, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara.
Sementara itu, siswa angkatan pertama yang sebelumnya menempati sekolah rintisan dalam waktu dekat akan dipindahkan ke gedung baru setelah seluruh fasilitas dinyatakan siap digunakan.
Arif mengakui, pada angkatan pertama terdapat beberapa siswa yang mengundurkan diri. Namun, jumlah tersebut relatif kecil dan menjadi bahan evaluasi pemerintah. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman.
“Sekarang fasilitasnya jauh lebih baik. Saya pikir orang tua mana yang tidak bangga melihat sekolah seperti ini,” katanya.
Ia juga mengingatkan, seluruh siswa agar tetap berhati-hati selama berada di lingkungan sekolah mengingat masih terdapat sejumlah pekerjaan penyelesaian di kawasan tersebut.
Pada pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), salah seorang wali murid, Iin Indrawati, warga Pinang Seribu, Samarinda Utara, mengaku bersyukur kedua anaknya diterima di Sekolah Rakyat jenjang SMA.
Diakui program tersebut, setelah adanya pendataan yang dilakukan ketua RT sebelum diarahkan ke kelurahan untuk mengikuti proses seleksi.
“Senang dan bangga. Anak saya juga mau sekolah di sini. Harapan saya semoga mereka menjadi anak yang sukses dan pintar,” tuturnya.
Pemkot Samarinda berharap, keberadaan Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi sarana pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Tetapi juga menjadi solusi jangka panjang, dalam memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

