Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Aji Sofyan Effendi Menilai: Danantara Mampu Perkuat Pengelolaan Aset Strategis Nasional

    Juni 14, 2026

    Sering Stres? Berenang Bisa Jadi Cara Sederhana Menenangkan Pikiran

    Juni 14, 2026

    Manfaat Gym untuk Kesehatan Tubuh, Tak Sekadar Membentuk Otot

    Juni 14, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»Pemkot Samarinda»Regenerasi Penenun Jadi Tantangan Utama Pelestarian Sarung Samarinda
    Pemkot Samarinda

    Regenerasi Penenun Jadi Tantangan Utama Pelestarian Sarung Samarinda

    Andika SaputraBy Andika SaputraJanuari 10, 2026Updated:Februari 4, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Kabid kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Barlin Hady Kesuma saat foto bersama
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda — Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda Barlin Hady Kesuma menegaskan, regenerasi penenun masih menjadi tantangan utama dalam pelestarian Sarung Samarinda meski jumlah penenun kini mulai stabil pascapandemi.

    Barlin menjelaskan, aktivitas penenunan Sarung Samarinda terpusat di Kampung Tenun Samarinda Seberang, yang sekitar 90 persen penduduknya berprofesi sebagai penenun dan pengrajin. Sebelum pandemi Covid-19, jumlah penenun mencapai sekitar 360 orang, namun sempat menurun drastis dan kini stabil di angka 120 penenun aktif.

    “Dari 120 penenun tersebut, sekitar 70 persen masih didominasi usia di atas 40 tahun, sementara 30 persen berasal dari generasi yang lebih muda,” ujar Barlin, Sabtu, 10 Januari 2026.

    Menurutnya, regenerasi penenun saat ini masih berlangsung secara turun-temurun dalam keluarga. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berperan memfasilitasi melalui pelatihan, bantuan bahan, serta dukungan fasilitas produksi agar Kampung Tenun tetap bertahan dan mampu memenuhi permintaan pasar, baik dari dalam maupun luar daerah.

    Selain regenerasi, pelestarian Sarung Samarinda juga dilakukan melalui penguatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sejumlah unit usaha seperti Rumah Tenun Rahma Dina menaungi para pengrajin rumahan yang mengerjakan seluruh proses produksi, mulai dari pewarnaan benang, penenunan, hingga pengemasan.

    “UMKM ini mendapat dukungan dari Pemkot Samarinda dan pihak ketiga, seperti Bank Indonesia, yang rutin memberikan pelatihan, termasuk peningkatan kualitas kemasan,” jelasnya.

    Barlin menambahkan, Pemkot Samarinda tidak hanya melindungi produknya, tetapi juga motif Sarung Samarinda. Motif-motif lama maupun baru telah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Komunal agar memiliki perlindungan hukum dan tidak digunakan tanpa izin.

    Terkait bahan baku, khususnya benang sutra untuk sarung premium, Barlin mengakui masih menjadi kendala karena ketergantungan pada bahan impor. Hal tersebut membuat harga tidak stabil dan sulit dipenuhi secara massal.

    “Benang sutra belum diproduksi di dalam negeri dan kebutuhannya bersaing dengan pengrajin sarung dari seluruh Nusantara,” katanya.

    Sebagai langkah adaptif, para penenun melakukan inovasi dengan menggunakan bahan katun agar produksi tetap berjalan. Sementara itu, pemerintah terus mengupayakan fasilitasi pengadaan bahan baku agar ke depan sarung premium dapat diproduksi lebih optimal.

    Ke depan, Barlin menyebutkan bahwa pelestarian dan regenerasi akan diperkuat melalui jalur pendidikan dengan mendorong Sarung Samarinda masuk ke dalam muatan lokal di sekolah-sekolah. Dengan demikian, generasi muda diharapkan mengenal proses pembuatan, pewarnaan, serta filosofi Sarung Samarinda sejak dini.

    “Harapannya, Sarung Samarinda tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi benar-benar menjadi identitas Kota Samarinda yang hidup dan dibanggakan lintas generasi,” pungkasnya.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Andika Saputra

    Related Posts

    Tekan Risiko Stunting, Wawali Samarinda Soroti Pentingnya Edukasi Calon Pengantin

    Juni 8, 2026

    Bapperida Pastikan Program OPD 2027 Selaras dengan Target Pembangunan Samarinda

    Juni 4, 2026

    Bangkit dari Abu, Wajah Baru Pasar Segiri Siap Sambut Pedagang Kembali

    Mei 4, 2026

    Dishub Samarinda Tempel Stiker pada Kendaraan Pelanggar Bongkar Muat di Pinggir Jalan

    Maret 17, 2026

    Parkir Berlangganan di Samarinda Masih Hadapi Tantangan, Dishub Dorong Kesadaran Warga

    Maret 17, 2026

    Dishub Samarinda Siapkan Posko dan Imbau Pemudik Periksa Kendaraan

    Maret 17, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Aji Sofyan Effendi Menilai: Danantara Mampu Perkuat Pengelolaan Aset Strategis Nasional

    Nur AjijahJuni 14, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Di tengah tantangan ekonomi global dan kebutuhan menjaga stabilitas devisa Indonesia. Pengamat Ekonomi…

    Sering Stres? Berenang Bisa Jadi Cara Sederhana Menenangkan Pikiran

    Juni 14, 2026

    Manfaat Gym untuk Kesehatan Tubuh, Tak Sekadar Membentuk Otot

    Juni 14, 2026

    Berenang Vs Lari, Mana yang Lebih Cepat Membakar Lemak Perut?

    Juni 14, 2026

    Rita Widyasari Belum Buka Pintu Politik, Pilih Fokus Pulihkan Nama Baik

    Juni 14, 2026
    1 2 3 … 3,144 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.