Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    DPRD Samarinda Soroti Minimnya Penerangan Permukiman, Lampu Jalan Mulai Diusulkan

    Oktober 19, 2026

    Andi Harun: Perubahan Tak Cukup dari Jalanan, Harus Masuk ke Ruang Kebijakan

    Oktober 19, 2026

    Lima Provinsi di Kalimantan Diusulkan Bersatu Dorong Penanganan Karhutla ke Pusat

    Oktober 19, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»Pemkot Samarinda»Regenerasi Penenun Jadi Tantangan Utama Pelestarian Sarung Samarinda
    Pemkot Samarinda

    Regenerasi Penenun Jadi Tantangan Utama Pelestarian Sarung Samarinda

    Andika SaputraBy Andika SaputraJanuari 10, 2026Updated:Februari 4, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Kabid kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Barlin Hady Kesuma saat foto bersama
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda — Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda Barlin Hady Kesuma menegaskan, regenerasi penenun masih menjadi tantangan utama dalam pelestarian Sarung Samarinda meski jumlah penenun kini mulai stabil pascapandemi.

    Barlin menjelaskan, aktivitas penenunan Sarung Samarinda terpusat di Kampung Tenun Samarinda Seberang, yang sekitar 90 persen penduduknya berprofesi sebagai penenun dan pengrajin. Sebelum pandemi Covid-19, jumlah penenun mencapai sekitar 360 orang, namun sempat menurun drastis dan kini stabil di angka 120 penenun aktif.

    “Dari 120 penenun tersebut, sekitar 70 persen masih didominasi usia di atas 40 tahun, sementara 30 persen berasal dari generasi yang lebih muda,” ujar Barlin, Sabtu, 10 Januari 2026.

    Menurutnya, regenerasi penenun saat ini masih berlangsung secara turun-temurun dalam keluarga. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berperan memfasilitasi melalui pelatihan, bantuan bahan, serta dukungan fasilitas produksi agar Kampung Tenun tetap bertahan dan mampu memenuhi permintaan pasar, baik dari dalam maupun luar daerah.

    Selain regenerasi, pelestarian Sarung Samarinda juga dilakukan melalui penguatan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sejumlah unit usaha seperti Rumah Tenun Rahma Dina menaungi para pengrajin rumahan yang mengerjakan seluruh proses produksi, mulai dari pewarnaan benang, penenunan, hingga pengemasan.

    “UMKM ini mendapat dukungan dari Pemkot Samarinda dan pihak ketiga, seperti Bank Indonesia, yang rutin memberikan pelatihan, termasuk peningkatan kualitas kemasan,” jelasnya.

    Barlin menambahkan, Pemkot Samarinda tidak hanya melindungi produknya, tetapi juga motif Sarung Samarinda. Motif-motif lama maupun baru telah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Komunal agar memiliki perlindungan hukum dan tidak digunakan tanpa izin.

    Terkait bahan baku, khususnya benang sutra untuk sarung premium, Barlin mengakui masih menjadi kendala karena ketergantungan pada bahan impor. Hal tersebut membuat harga tidak stabil dan sulit dipenuhi secara massal.

    “Benang sutra belum diproduksi di dalam negeri dan kebutuhannya bersaing dengan pengrajin sarung dari seluruh Nusantara,” katanya.

    Sebagai langkah adaptif, para penenun melakukan inovasi dengan menggunakan bahan katun agar produksi tetap berjalan. Sementara itu, pemerintah terus mengupayakan fasilitasi pengadaan bahan baku agar ke depan sarung premium dapat diproduksi lebih optimal.

    Ke depan, Barlin menyebutkan bahwa pelestarian dan regenerasi akan diperkuat melalui jalur pendidikan dengan mendorong Sarung Samarinda masuk ke dalam muatan lokal di sekolah-sekolah. Dengan demikian, generasi muda diharapkan mengenal proses pembuatan, pewarnaan, serta filosofi Sarung Samarinda sejak dini.

    “Harapannya, Sarung Samarinda tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi benar-benar menjadi identitas Kota Samarinda yang hidup dan dibanggakan lintas generasi,” pungkasnya.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Andika Saputra

    Related Posts

    Andi Harun Tantang PMII Kawal Pembangunan Samarinda

    Oktober 18, 2026

    Cari Kerja di Samarinda Makin Mudah, Disnaker Luncurkan Sistem Pencocokan Kompetensi

    Oktober 18, 2026

    Tak Hanya Menang atau Kalah, Andi Harun Soroti Pentingnya Mediasi dalam Penegakan Hukum

    Oktober 18, 2026

    Wawali Saefuddin Dorong Kaltim Bershalawat Rutin Digelar

    Oktober 18, 2026

    Saefuddin Harap PERDESTI Perkuat Profesionalisme Dokter Estetika

    Oktober 18, 2026

    Andi Harun Ajak Mahasiswa Kritis Mengkaji Pemilu

    Oktober 18, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    DPRD Samarinda Soroti Minimnya Penerangan Permukiman, Lampu Jalan Mulai Diusulkan

    Ratu ArifanzaOktober 19, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Kebutuhan penerangan jalan di kawasan permukiman menjadi salah satu aspirasi masyarakat yang…

    Andi Harun: Perubahan Tak Cukup dari Jalanan, Harus Masuk ke Ruang Kebijakan

    Oktober 19, 2026

    Lima Provinsi di Kalimantan Diusulkan Bersatu Dorong Penanganan Karhutla ke Pusat

    Oktober 19, 2026

    Aksi Karhutla Berlanjut, DP3A Kaltim Negosiasi agar Massa Pindah ke Dalam Ruangan

    Oktober 19, 2026

    Bayi Diduga Terdampak Asap Karhutla, TRC PPA Kaltim Desak Status Bencana Nasional

    Oktober 19, 2026
    1 2 3 … 3,393 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.