Insitekaltim, Samarinda – Wajah pendidikan dasar dan menengah kembali tercoreng. Rilis terbaru rata-rata nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 mengungkap fakta pahit kemampuan logika dan numerasi siswa Indonesia berada di titik nadir, tertinggal jauh di belakang kemampuan literasi dasar.
Berdasarkan data TKA 2026, ketimpangan mencolok terjadi di dua mata pelajaran utama. Pada jenjang SD/MI, rata-rata nilai Matematika merosot di angka 43,41, berbanding terbalik dengan Bahasa Indonesia 60,14.
Potret buram ini berlanjut di tingkat SMP/MTs, di mana Matematika terperosok ke skor 40,34, sementara Bahasa Indonesia bertahan di 60,83. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm bahaya kegagalan sistemik dalam mengajarkan logika berpikir kepada generasi penerus.
Merespons rapor merah tersebut Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kaltim Sri Wahyuni mengatakan bahwa fenomena ini menampar seluruh pemangku kebijakan dan menuntut perombakan total dari hulu ke hilir.
“Ini akan jadi bahan evaluasi kita. Ya, ini tentu evaluasi bersama semua stakeholder, guru, tenaga pendidikan, kepala sekolah, kemudian juga pengawas dan juga dinas pendidikan. Ini harus menjadi evaluasi kita, apa yang menyebabkan penurunan kualitas ini,” tegas Sri Wahyuni di Samarinda, Kamis, 11 Juni 2026.
Anjloknya nilai tersebut murni karena materi yang kelewat berat, atau justru kompetensi tenaga pendidik yang gagal menyampaikan esensi ilmu secara kontekstual.
Di sisi lain, rutinitas belajar-mengajar di kelas yang terlampau konvensional dinilai membuat siswa gagap saat dihadapkan pada soal-soal penalaran berstandar nasional.
“Apakah dari pengajaran, penyampaiannya, materinya, atau apakah anak-anak kita belum banyak uji coba untuk itu? Jadi selama ini hanya fokus di belajar saja,” sergahnya.
Kaltim seolah dipaksa berkaca pada daerah lain yang lebih siap menghadapi perubahan sistem ujian, sebuah ironi di mana sekolah-sekolah di Kaltim tertinggal secara taktik dibandingkan sebuah sekolah di ujung selatan Sumatera.
“Kita lihat kemarin kan sempat viral, salah satu sekolah di Lampung sukses 100 persen siswanya lolos di PTN karena mereka getol memberikan trial PTN kepada siswa. Jadi ini hal yang sangat perlu,” ujar Sri.
Ke depan, Sekda Kaltim mendesak Dinas Pendidikan agar segera menyusun intervensi khusus untuk subjek-subjek mata pelajaran yang masuk zona merah, terutama Matematika.
Pembelajaran tidak boleh lagi sekadar mengejar ketuntasan kurikulum, melainkan harus membiasakan insting analitis siswa melalui simulasi berkala.
“Jadi ada belajar-belajar yang wajib, tapi juga ada hal-hal yang perlu ditingkatkan frekuensinya (dalam) melatih anak, terutama untuk TKA tadi. Subjek-subjek yang perlu peningkatan, nah itu menjadi atensi kita nanti dengan Disdik,” tutupnya.

