Insitekaltim, Samarinda – Tren “Stop the Wedding” ramai diperbincangkan di media sosial. Melalui tren ini, pengguna membagikan berbagai cerita tentang hubungan yang seharusnya menjadi bahan pertimbangan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Mulai dari pasangan yang terlalu mengontrol, kebiasaan berbohong, perselingkuhan, hingga kekerasan yang selama ini kerap dianggap sebagai bagian dari hubungan asmara.
Di balik tren tersebut, ada pesan yang patut diperhatikan: jangan sampai keinginan untuk menikah membuat seseorang mengabaikan tanda-tanda hubungan yang tidak sehat.
Sebab, pernikahan bukan hanya tentang rasa cinta atau keberhasilan menggelar pesta. Kehidupan setelahnya membutuhkan rasa aman, saling menghargai, komunikasi yang baik, dan kesediaan menjalankan tanggung jawab bersama.
Dalam buku Best Practice Konseling Pra-Nikah Berbasis Integrasi Psikologi & Islam Menuju Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah, Elok Halimatus Sakdiyah dan Muallifah membahas pentingnya persiapan psikologis dan keagamaan sebelum menikah.
Buku terbitan UIN Maliki Press tersebut juga mengulas komunikasi efektif dalam rumah tangga serta pengembangan kapasitas psikologis pasangan.
Gagasan ini menunjukkan bahwa kesiapan menikah tidak cukup diukur dari seberapa besar rasa cinta. Calon pasangan juga perlu mengenali karakter masing-masing, memahami tanggung jawab, serta memiliki kemampuan menghadapi persoalan bersama.
1. Terlalu mengontrol dan membatasi pasangan
Perhatian dan rasa peduli memang menjadi bagian dari hubungan. Namun, keduanya berbeda dengan perilaku mengontrol.
Pasangan yang terus-menerus mengatur cara berpakaian, melarang bertemu teman atau keluarga, memeriksa ponsel tanpa persetujuan, hingga menentukan seluruh keputusan pribadi perlu menjadi perhatian.
Perilaku posesif terkadang dibungkus dengan alasan cemburu atau takut kehilangan. Padahal, hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi masing-masing orang untuk memiliki privasi, pertemanan, dan kehidupan pribadi.
2. Sering merendahkan dan memanipulasi perasaan
Tanda hubungan tidak sehat juga dapat muncul melalui ucapan. Kebiasaan menghina, mempermalukan, mengancam, menyalahkan pasangan atas semua masalah, atau membuatnya merasa tidak berharga bukan bagian dari komunikasi yang wajar.
Ada pula perilaku manipulatif, seperti memutarbalikkan kejadian hingga pasangan meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri. Dalam kondisi tertentu, seseorang akhirnya merasa selalu bersalah meskipun tidak memahami kesalahan yang dilakukan.
Penelitian Prilianti Putri Lestari, Zainal Abidin, dan Fitri Ariyanti Abidin yang diterbitkan dalam Martabat: Jurnal Perempuan dan Anak pada 2022 mengkaji pengalaman empat perempuan berusia 20–24 tahun yang menjadi korban kekerasan dalam pacaran.
Hasil penelitian tersebut menemukan bentuk kekerasan berupa tindakan verbal, fisik, dan seksual. Dampaknya tidak hanya berupa tekanan dan trauma, tetapi juga rasa rendah diri, menyalahkan diri sendiri, serta ketergantungan kepada pasangan.
Temuan itu memperlihatkan bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu dimulai dari tindakan fisik. Perkataan dan perlakuan yang merusak kondisi psikologis juga perlu dikenali.
3. Tidak bisa berkomunikasi tanpa menyakiti
Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam hubungan. Persoalan muncul ketika setiap perbedaan berujung pada bentakan, penghinaan, ancaman, atau sikap mendiamkan pasangan sebagai bentuk hukuman.
Hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah bertengkar. Namun, kedua pihak perlu mampu membicarakan masalah tanpa menjatuhkan satu sama lain.
Kemampuan mendengarkan, menyampaikan keberatan dengan baik, mengakui kesalahan, dan mencari penyelesaian bersama merupakan bekal penting sebelum menikah.
4. Tidak mau bertanggung jawab dan selalu mengingkari janji
Komitmen tidak cukup dibuktikan melalui ucapan ingin menikah atau janji membangun masa depan bersama. Sikap sehari-hari justru memperlihatkan apakah seseorang benar-benar dapat dipercaya.
Kebiasaan berbohong, mengingkari kesepakatan, menghindari tanggung jawab, serta terus mengulangi perilaku yang menyakiti pasangan tanpa upaya memperbaiki diri patut menjadi bahan pertimbangan.
Hal ini juga berkaitan dengan tanggung jawab setelah menikah, termasuk pengelolaan keuangan, pembagian peran, dan keterlibatan dalam kehidupan keluarga.
5. Menggunakan kekerasan atau ancaman
Kekerasan fisik, seksual, maupun ancaman tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil yang akan hilang setelah menikah.
Mendorong, menampar, memukul, memaksa hubungan seksual, mengancam keselamatan, atau merusak barang untuk menakut-nakuti pasangan merupakan perilaku serius. Pernikahan bukan jaminan seseorang akan berubah dengan sendirinya.
Jika mengalami kekerasan atau merasa terancam, penting untuk mencari dukungan dari orang tepercaya dan layanan pendampingan yang tersedia. Keselamatan harus menjadi prioritas.
Jangan terburu-buru hanya karena rencana pernikahan sudah berjalan
Mengenali tanda hubungan tidak sehat bukan berarti mencari pasangan yang sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan dan setiap hubungan membutuhkan proses penyesuaian.
Namun, ada perbedaan antara kekurangan yang dapat dibicarakan dan perilaku yang membahayakan. Kesalahan yang diakui, disertai tanggung jawab dan perubahan nyata, berbeda dengan kekerasan atau manipulasi yang terus berulang.
Karena itu, sebelum menikah, calon pasangan perlu membicarakan hal-hal mendasar seperti pandangan tentang keuangan, pekerjaan, anak, hubungan dengan keluarga besar, pembagian tanggung jawab, dan nilai-nilai yang ingin dijalankan dalam rumah tangga.
Konseling pranikah juga dapat menjadi ruang untuk mengenali kesiapan masing-masing, membahas perbedaan, dan mempelajari cara menyelesaikan konflik.
Pada akhirnya, pesan dari tren “Stop the Wedding” bukanlah mengajak setiap orang meragukan pernikahan. Justru, tren ini dapat menjadi pengingat agar keputusan besar tersebut tidak diambil dengan menutup mata terhadap persoalan yang nyata.
Sebab, pernikahan bukan hanya tentang siapa yang akan berdiri di samping kita saat hari bahagia, tetapi juga siapa yang bersedia saling menghormati, bertanggung jawab, dan membangun kehidupan bersama setelah hari itu berlalu.

