Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Titipan dan Jual Beli Kursi Jadi Musuh Utama SPMB 2026, Disdikbud Kaltim Siapkan Sanksi Berat

    Juni 19, 2026

    Fokus Utama Layanan Pemda, HIV Masih Jadi Tantangan Kesehatan, Samarinda Catat 492 Kasus Sepanjang 2025

    Juni 19, 2026

    Belum Berdampak Signifikan, Pemkot Samarinda Perketat Pemantauan Inflasi Kenaikan BBM

    Juni 19, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»DPRD Kaltim»Putus Sekolah di Kaltim Tembus 16 Ribu, DPRD Sentil Biaya Hidup Pelajar
    DPRD Kaltim

    Putus Sekolah di Kaltim Tembus 16 Ribu, DPRD Sentil Biaya Hidup Pelajar

    SittiBy SittiJuni 19, 2025Updated:Juni 19, 202502 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Darlis Pattalongi
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Sebanyak 16.000 anak di Kalimantan Timur (Kaltim) tercatat putus sekolah sepanjang 2024. Angka ini dirilis Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim dan menjadi perhatian serius DPRD Kaltim, terutama terkait kualitas dan akses pendidikan menengah dan tinggi.

    Anggota DPRD Kaltim dari Fraksi PAN–NasDem, Darlis Pattalongi menyoroti faktor utama di balik rendahnya angka rata-rata lama sekolah di Kaltim yang hanya 10 tahun setara dengan kelas 1 SMA. Menurutnya, bukan sekadar biaya kuliah atau UKT yang menjadi hambatan, melainkan juga biaya hidup (living cost) seperti transportasi dan akomodasi yang kerap tidak terjangkau oleh keluarga siswa.

    “Salah satu target kita meningkatkan lama usia sekolah. Maka dari itu Program Gratispol dirancang bukan hanya membayar UKT, tapi juga didukung seragam, buku, dan bantuan lainnya dari pemprov,” kata Darlis belum lama ini.

    Pemprov sudah menyubsidi banyak hal, tetapi kolaborasi dengan sektor swasta masih sangat diperlukan. Dalam konteks ini, Darlis menyebut perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kaltim bisa menyalurkan CSR (corporate social responsibility)-nya ke bentuk bantuan yang lebih tepat sasaran.

    “Banyak perusahaan salurkan CSR dalam bentuk beasiswa. Tapi kami minta jangan tumpang tindih dengan UKT yang sudah dibiayai APBD. Perusahaan lebih baik berpartisipasi dalam bentuk living cost seperti transportasi atau akomodasi,” jelasnya.

    Menurut Darlis, kolaborasi antara pemerintah dan swasta menjadi penting mengingat karakteristik unik Kaltim yang berbeda dengan provinsi lain seperti di Jawa. Ia menyebut pertumbuhan penduduk di Kaltim mencapai 2,8 persen, namun tidak didominasi oleh kelahiran atau kematian, melainkan karena faktor migrasi.

    “Orang datang ke Kaltim dengan segala masalahnya, itu menyebabkan angka pendidikan sulit stabil. Tiap saat bisa berubah. Ini tantangan daerah yang berkembang karena migrasi,” ujar Darlis.

    Sebagai Anggota Komisi IV dan Badan Anggaran DPRD Kaltim, Darlis juga menyoroti aspek penting lain dari pembangunan pendidikan, yakni kualitas pengajar dan sarana prasarana pendidikan. Menurutnya, program gratis seperti Gratispol tidak boleh hanya fokus pada pembiayaan.

    “Kami khawatir pembiayaan sudah berjalan, tapi kualitas guru, dosen, dan fasilitas tidak diperhatikan. Ini harus dikawal agar tujuan utamanya, yaitu peningkatan kualitas pendidikan, tidak buyar,” tegasnya.

    Darlis optimistis, jika kebijakan pendidikan di Kaltim dijalankan secara holistik menggabungkan pembiayaan, kualitas SDM pengajar, serta partisipasi swasta dalam menanggung biaya hidup pelajar maka angka putus sekolah bisa ditekan secara signifikan, dan rata-rata lama sekolah bisa meningkat dalam lima tahun ke depan.

    APBD Darlis Pattalongi SDM UKT
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Sitti

    Related Posts

    Pangkas Celah Titipan, Parlemen Kaltim Minta Kuota Sekolah Negeri Dikunci

    Juni 18, 2026

    Distribusi Guru Tak Merata, Sekolah di Kaltim Terpaksa Berbagi Tenaga Pengajar

    Juni 17, 2026

    Kekosongan Jabatan Definitif di Disdikbud Kaltim Dinilai Jadi Pangkal Kisruh Surat Tugas Guru

    Juni 16, 2026

    Anggaran Minim, Samarinda Terancam Tak Kirim Seluruh Atlet Lolos BK ke Porprov Paser

    Juni 15, 2026

    Patuh Pada Partai, PAN Klaim Tak Hadiri Sidang Paripurna Hak Angket

    Juni 10, 2026

    Ledakan Proyek Besar di Samarinda Dinilai Belum Berdampak Signifikan pada Penurunan Angka Pengangguran

    Mei 22, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Titipan dan Jual Beli Kursi Jadi Musuh Utama SPMB 2026, Disdikbud Kaltim Siapkan Sanksi Berat

    SittiJuni 19, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menegaskan tidak akan…

    Fokus Utama Layanan Pemda, HIV Masih Jadi Tantangan Kesehatan, Samarinda Catat 492 Kasus Sepanjang 2025

    Juni 19, 2026

    Belum Berdampak Signifikan, Pemkot Samarinda Perketat Pemantauan Inflasi Kenaikan BBM

    Juni 19, 2026

    Bukan Sekadar Estetika, Arsitektur Modern Samarinda Jadi Media Belajar Visual Pelajar

    Juni 19, 2026

    Didesak Maju Pilwali Samarinda, Saefuddin Zuhri Pilih Fokus Bekerja Ketimbang Berpolitik

    Juni 19, 2026
    1 2 3 … 3,155 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.