Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Satu Langkah, Banyak Generasi: Jalan Santai PWI Kaltim Rajut Kebersamaan

    September 6, 2026

    Soal Pajak hingga Penyalahgunaan Dana, DPD RI Siap Libatkan BPK

    September 5, 2026

    Seno Aji Bawa Semangat Pembinaan Pencak Silat Kaltim ke Rakernas IPSI 2026

    September 5, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Politik»Politik Perasaan, Ketika Sentimen Publik Mengalahkan Fakta
    Politik

    Politik Perasaan, Ketika Sentimen Publik Mengalahkan Fakta

    Adit MustafaBy Adit MustafaNovember 17, 202403 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur Abdurrahman Amin
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

     

    Insitekaltim, Samarinda – Politik modern telah bergeser. Bukan lagi fakta dan data yang mendominasi, melainkan sentimen dan persepsi publik.

    Dalam sebuah diskusi bertajuk “Netralitas Adalah Kunci, Jurnalis Bukan Juru Kampanye”, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Timur Abdurrahman Amin menyoroti fenomena politik perasaan yang kian memengaruhi demokrasi, baik di dunia internasional maupun Indonesia.

    Acara yang diinisiasi oleh Jurnalis Milenial Samarinda dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Samarinda ini berlangsung di T-co Coffee, Jalan Banggeris, Samarinda, Minggu (17/11/2024). Diskusi tersebut memancing refleksi mendalam, terutama tentang bagaimana jurnalis harus berperan di tengah era digital yang semakin rumit.

    Pria yang akrab dipanggil Rahman itu mengawali diskusi dengan mengulas kemenangan Donald Trump dalam Pemilu Presiden Amerika Serikat pada 5 November 2024. Banyak yang terkejut dengan hasil ini, terutama pendukung Kamala Harris. Sebagian besar analisis menyebutkan bahwa kemenangan Trump tidak lepas dari keberhasilannya memanfaatkan perasaan publik.

    “Situasi ekonomi Amerika sebenarnya baik-baik saja menjelang lengsernya Presiden Joe Biden. Inflasi mulai terkendali dan daya beli masyarakat meningkat. Tetapi, yang menjadi persoalan adalah persepsi bahwa ekonomi memburuk,” jelas Rahman.

    Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa di era post-truth, perasaan publik lebih dominan daripada fakta. Sentimen bisa direkayasa oleh mesin kampanye canggih, terutama melalui media sosial. “Yang dihadapi bukan lagi keadaan faktual, melainkan perasaan publik yang bisa diarahkan sesuai kepentingan politik,” tambahnya.

    Era post-truth membuat politik menjadi medan pertempuran untuk memenangkan sentimen publik. Rahman menekankan bahwa di era digital, opini dan persepsi yang bersifat subyektif sering kali lebih menentukan daripada kebenaran faktual.

    “Media sosial memungkinkan publik menyampaikan opini secara spontan, tetapi di sisi lain, perasaan tersebut bisa dimanipulasi oleh narasi-narasi masif yang dirancang oleh mesin kampanye,” katanya.

    Ia mencontohkan bagaimana para pendukung Trump menggunakan platform seperti X (dulunya Twitter) dan podcast konservatif untuk membentuk opini publik yang menguntungkan mereka.

    Rahman mengingatkan bahwa demokrasi di era digital menghadapi tantangan besar: bagaimana membatasi dampak negatif dari politik sentimen dan membawa kembali politik berbasis nalar.

    Tantangan Demokrasi di Indonesia, Khususnya Kaltim

    Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, termasuk pada pilkada di Kalimantan Timur. Rahman menilai bahwa masyarakat cenderung lebih terpengaruh oleh narasi di media sosial daripada fakta di lapangan.

    “Media sosial sering kali memanipulasi perasaan dan persepsi, tetapi ada hal yang tidak bisa direkayasa, yaitu integritas dan karakter,” ujar Rahman.

    Ia mengajak para jurnalis untuk memberikan informasi yang jujur dan berbasis realitas, bukan sekadar mengikuti arus sentimen yang dibangun di media sosial.

    Di tengah era digital, Rahman menegaskan bahwa jurnalis memiliki peran penting sebagai penjaga realitas publik. Hal ini, lanjutnya, menjadi auto kritik bagi media konvensional yang dinilai belum sepenuhnya menjalankan perannya dalam menggambarkan kondisi yang sebenarnya terjadi.

    “Ini menjadi auto kritik untuk kita semua, hari ini kita belum memberikan kondisi realitas yang benar-benar terjadi untuk kita gambarkan kepada masyarakat. Hari ini masyarakat masih banyak berasumsi terhadap apa yang terjadi di media sosial,” tuturnya.

    “Kita yang bergelut di media mainstream harus memberikan pencerahan. Jangan hanya bersandar pada narasi di media sosial, karena itu bisa direkayasa. Tugas kita adalah memberikan informasi yang akurat dan mencerahkan masyarakat,” tegas Rahman.

    Rahman juga mengingatkan bahwa jurnalis harus berpegang teguh pada kode etik jurnalistik dan memperjuangkan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar. Dengan begitu, media dapat menjadi pilar demokrasi yang kokoh di tengah arus politik sentimen yang semakin deras.

    Sebagai penutup, Rahman menyerukan pentingnya mengembalikan politik berbasis nalar di tengah tantangan politik perasaan. “Jurnalis harus mampu menjadi jembatan antara fakta dan publik, sehingga demokrasi tidak hanya menjadi ajang manipulasi sentimen, tetapi benar-benar mencerminkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

    Diskusi ini menjadi pengingat bagi jurnalis untuk tetap menjaga netralitas dan integritas, sekaligus membangun kesadaran publik tentang pentingnya menilai informasi secara kritis di era digital.

    Abdurrahman Amin Era Digital Politik
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Adit Mustafa

    Related Posts

    Satu Langkah, Banyak Generasi: Jalan Santai PWI Kaltim Rajut Kebersamaan

    September 6, 2026

    RUU Perampasan Aset Bakal Sasar Narkotika hingga Kejahatan Investasi

    September 3, 2026

    Anggaran Karhutla Dinilai Lebih Fokus Pemadaman, Sonny Dorong Penguatan Pencegahan

    September 2, 2026

    Pansus MBLB DPRD Kaltim Bahas Regulasi Tambang Ilegal hingga Perizinan Usaha

    September 2, 2026

    Antisipasi Kabut Asap, Ribuan Masker Dibagikan Gratis kepada Pelajar Samarinda

    September 1, 2026

    DPRD Kaltim Dukung DOB Benua Raya, Tapi Pemekaran Masih Butuh Kajian

    Agustus 31, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Satu Langkah, Banyak Generasi: Jalan Santai PWI Kaltim Rajut Kebersamaan

    Ratu ArifanzaSeptember 6, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Minggu pagi biasanya menjadi waktu untuk bersantai. Namun, suasana berbeda terlihat di…

    Soal Pajak hingga Penyalahgunaan Dana, DPD RI Siap Libatkan BPK

    September 5, 2026

    Seno Aji Bawa Semangat Pembinaan Pencak Silat Kaltim ke Rakernas IPSI 2026

    September 5, 2026

    Dashboard Digital Proyek Samarinda Bakal Tampilkan Deviasi hingga Mutu Pekerjaan

    September 5, 2026

    Kemarau Panjang Bikin Mahulu Waspada, Pemprov Kaltim Salurkan 52 Ton Beras

    September 5, 2026
    1 2 3 … 3,321 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.