Insitekaltim, Samarinda – Daya beli masyarakat di Kalimantan Timur (Kaltim) saat ini mengalami penurunan. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga dampak penyesuaian kebijakan produksi batu bara yang berimbas pada perekonomian daerah.
Hal tersebut diakui Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Kaltim Heni Purwaningsih, dalam keterangannya, Selasa, 7 Juli 2026.
Heni menjelaskan, salah satu faktor yang memengaruhi turunnya daya beli adalah penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor pertambangan yang berdampak terhadap meningkatnya PHK.
Di sisi lain, harga berbagai komoditas, termasuk bahan pokok, terus mengalami kenaikan akibat tingginya biaya distribusi, impor, serta dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).
“Pendapatan masyarakat relatif tetap, tetapi harga-harga kebutuhan terus meningkat. Akibatnya, jarak antara penghasilan dan kebutuhan yang harus dipenuhi semakin besar. Itu yang menyebabkan daya beli masyarakat menurun,” ujar Heni.
Ia menggambarkan, kondisi tersebut melalui kemampuan masyarakat dalam membeli kebutuhan pokok. Jika sebelumnya dengan nominal uang yang sama masyarakat dapat membeli 10 kilogram beras, kini jumlah yang diperoleh hanya sekitar lima kilogram.
Menurutnya, penurunan daya beli otomatis berdampak pada berkurangnya permintaan terhadap berbagai komoditas. Dalam mekanisme pasar, kondisi tersebut turut memengaruhi jumlah pasokan dan pergerakan harga.
“Kalau permintaan turun, tentu suplai akan menyesuaikan. Itu hukum ekonomi, permintaan dan penawaran saling memengaruhi,” katanya.
Selain itu, Heni menilai berbagai kebijakan yang sedang dievaluasi pemerintah, termasuk pada sektor distribusi pangan, juga dapat memengaruhi tingkat permintaan masyarakat terhadap bahan pokok.
Meski demikian, ia melihat masyarakat mulai melakukan berbagai upaya untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga. Salah satunya melalui penerapan urban farming atau pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam kebutuhan pangan sendiri.
“Sekarang masyarakat juga semakin pintar. Urban farming mulai banyak dilakukan sehingga sebagian kebutuhan pangan bisa dipenuhi dari lingkungan sendiri,” pungkasnya.

