Insitekaltim, Samarinda – Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda Ismid Kusasih mengatakan, capaian penemuan kasus tuberkulosis (TB) di Kota Samarinda telah mencapai sekitar 91 persen dari target yang ditetapkan pemerintah.
Capaian tersebut merupakan hasil dari penguatan skrining yang terus digencarkan. Sebagai bagian dari upaya percepatan deteksi dan pengobatan penyakit menular. Bukan karena meningkatnya angka penularan.
Ismid Kusasih mengatakan, hingga pertengahan 2026 program penanggulangan TB dan HIV di Samarinda berjalan sesuai target. Upaya yang dilakukan meliputi penemuan kasus, penatalaksanaan pasien, pencegahan, hingga promosi kesehatan.
“Alhamdulillah sampai bulan keenam, program TB dan HIV di Kota Samarinda sesuai dengan target. Capaian penanganannya baik melalui penatalaksanaan, pencegahan, maupun promosi kesehatan,” ujarnya, Kamis, 25 Juni 2026.
Menurut Ismid, peningkatan jumlah kasus yang ditemukan harus dipahami sebagai indikator keberhasilan skrining. Semakin banyak penderita yang terdeteksi sejak dini. Semakin cepat pula, mereka mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan dapat ditekan.
“Jadi jangan dibalik, peningkatan angka temuan bukan berarti penularannya meningkat, tetapi karena deteksi kita semakin baik,” jelasnya.
Ia menyebut, pada tahun lalu capaian penemuan kasus TB di Samarinda mencapai sekitar 91 persen dari target. Setelah ditemukan, pasien langsung menjalani pengobatan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah.
Selain menjadi bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, penanggulangan TB. Juga merupakan salah satu program prioritas nasional, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Karena itu, kegiatan skrining terus diperluas agar seluruh penderita dapat ditemukan dan ditangani lebih cepat.
Di sisi lain, DPRD Kota Samarinda juga berencana menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang penanggulangan TB dan HIV. Regulasi tersebut diharapkan menjadi payung hukum yang memperkuat pelaksanaan program di daerah.
Ismid menegaskan, keberhasilan pengendalian TB maupun HIV tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan dukungan masyarakat.
“Penyakit TB dan HIV tidak bisa dikerjakan sendiri oleh sektor kesehatan. Harus ada kolaborasi dari berbagai pihak, sama seperti saat penanganan Covid-19 dulu. Karena ini penyakit menular, semua harus terlibat,” pungkasnya.

