Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Tak Sekadar Nyaman, Gaya Casual Kini Jadi Identitas Anak Muda

    Juni 3, 2026

    Benarkah Pendidikan Gratis Bisa Menghapus Angka Putus Sekolah?

    Juni 3, 2026

    Raperda Reklame Masuk Tahap Krusial, DPRD Upayakan Keseimbangan PAD dan Iklim Investasi

    Juni 3, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»DPRD Kaltim»Pendidikan Nasional Dinilai Gagal Sentuh Realitas Lokal Kaltim
    DPRD Kaltim

    Pendidikan Nasional Dinilai Gagal Sentuh Realitas Lokal Kaltim

    SittiBy SittiAgustus 3, 202502 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Agusriansyah Ridwan
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda – Sistem pendidikan nasional dinilai belum menyentuh kebutuhan riil masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim). Pendekatan kurikulum yang masih sentralistik dinilai sebagai biang ketimpangan pembangunan sumber daya manusia (SDM), terutama di daerah-daerah kaya sumber daya alam namun tertinggal dalam kualitas SDM.

    Hal ini disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Kaltim Agusriansyah Ridwan yang menilai bahwa model pendidikan nasional saat ini belum mampu menyesuaikan dengan kekhasan dan potensi lokal di daerah. Ia menilai sistem pendidikan masih terlalu terpaku pada standar nasional yang tidak mempertimbangkan realitas lokal.

    “Selama ini pendekatan pendidikan kita masih terlalu sentralistik, padahal tiap wilayah punya kebutuhan dan kekuatan masing-masing. Ketika pendidikan tidak relevan dengan realitas lokal, maka pembangunan pun berjalan timpang,” ucap Agusriansyah, Kamis, 31 Juli 2025.

    Menurut politisi Fraksi PKS ini, pendidikan nasional semestinya disesuaikan dengan kondisi sosio-kultural dan ekonomi daerah. Ia menilai, banyak lulusan pendidikan di Kaltim yang tidak terserap dunia kerja karena keterampilan dan pengetahuannya tidak selaras dengan kebutuhan daerah.

    “Pendidikan kita terlalu generik. Padahal di Kaltim, potensi sektor pertambangan, kehutanan, pertanian, hingga pariwisata berbasis budaya sangat besar. Kurikulum semestinya bisa mengarah ke sana,” ucapnya.

    Ia menambahkan, kearifan lokal tidak boleh hanya dianggap sebagai warisan budaya, tetapi juga harus menjadi fondasi pendidikan yang membentuk karakter dan kompetensi anak didik sesuai dengan kebutuhan pembangunan wilayahnya.

    “Ini bukan semata soal menjaga warisan leluhur, tapi bagaimana menjadikan kearifan lokal sebagai fondasi dalam menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan di wilayahnya sendiri,” jelasnya.

    Agusriansyah juga menyoroti dominasi pemerintah pusat dalam merancang dan menentukan arah kebijakan pendidikan. Hal ini menyebabkan sekolah dan pemerintah daerah kehilangan ruang inovasi dalam menyusun kurikulum yang sesuai dengan tantangan dan potensi lokal.

    Ia menyarankan agar pemerintah pusat memberi ruang lebih besar kepada daerah dalam menyusun kebijakan pendidikan yang adaptif dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.

    “Selama ini daerah hanya jadi pelaksana dari program yang ditentukan pusat. Harusnya ada ruang kolaborasi antara pemda, institusi pendidikan, dan komunitas lokal dalam merancang kurikulum dan sistem pembelajaran yang relevan,” katanya.

    Agusriansyah menegaskan bahwa arah pembangunan SDM di Kaltim hanya akan efektif jika pendidikan mampu mencerminkan identitas, kebutuhan, dan kekuatan lokal. Tanpa itu, daerah hanya akan terus menjadi penyedia sumber daya alam tanpa kekuatan untuk mengelolanya sendiri.

    “Pendidikan harus berangkat dari realitas yang ada. Ketika sistem pendidikan mampu mencerminkan identitas lokal, maka hasilnya tidak hanya mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga memperkuat jati diri dan daya saing daerah,” tutupnya.

    Agusriansyah Ridwan Pendidikan Nasional SDM
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Sitti

    Related Posts

    Kolaborasi Tiga Kekuatan: Jurus Baru Cetak Talenta Siap Kerja dan Siap Cipta Lapangan Kerja

    Mei 5, 2026

    Hak Angket DPRD Kaltim Masih Menggantung, Tarik Ulur Politik Fraksi Jadi Penghambat

    Mei 1, 2026

    DPRD Samarinda Kritik Wacana Penutupan Prodi, Soroti Ketimpangan SDM dan Dunia Kerja

    April 29, 2026

    IMM Kaltim Soroti Isu Lingkungan Hingga SDM, Tegaskan Peran Strategis Mahasiswa dalam Kebijakan Daerah

    April 4, 2026

    Wacana Pemisahan Disporapar Samarinda Menguat, Terkendala Anggaran dan Keterbatasan SDM

    Maret 28, 2026

    161 Aspirasi Masuk Kamus Usulan DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud Tekankan Integrasi ke Program Daerah

    Maret 22, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Tak Sekadar Nyaman, Gaya Casual Kini Jadi Identitas Anak Muda

    R’syaJuni 3, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul) angkatan 2020, Ale menjadikan fashion sebagai…

    Benarkah Pendidikan Gratis Bisa Menghapus Angka Putus Sekolah?

    Juni 3, 2026

    Raperda Reklame Masuk Tahap Krusial, DPRD Upayakan Keseimbangan PAD dan Iklim Investasi

    Juni 3, 2026

    Tiga Jemaah Haji Lansia Asal Kaltim Meninggal di Tanah Suci, Dua Akibat Serangan Jantung

    Juni 3, 2026

    Harga TBS Sawit Kaltim Turun, Dipicu Pelemahan Harga CPO dan Kernel

    Juni 3, 2026
    1 2 3 … 3,118 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.