Insitekaltim, Samarinda – Sejumlah pedagang mengeluh, revitalisasi Pasar Pagi Samarinda, dengan konstruksi tanpa eskalator dan lift yang menelan anggaran sekitar Rp600 miliar belum memberikan akses bagi penjual maupun pembeli.
“Belum memberikan angin segar, bagi para pedagang. Karena konsumen enggan menggunakan tangga manual, kelantai yang ditempati pedagang,” ungkap Haji Surati (68 th) pedagang sembako yang ditemui Insitekaltim, di Pasar Pagi, Sabtu, 20 Juni 2026.

Ia dan Sejumlah pedagang mengaku, jumlah pembeli menurun dibandingkan sebelum pasar direvitalisasi. Terutama bagi mereka, yang menempati kios di lantai atas.
Menurut H Surati, kondisi pasar saat ini jauh lebih sepi dibandingkan pasar lama. Akses menuju lantai dua dan lantai atas, menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah pengunjung.
“Konsumen mengeluh karena harus naik tangga. Tangga ke atas itu banyak, sekitar 30 sampai 35 anak tangga. Kalau yang sudah sepuh tentu berat,” ujarnya.
Pedagang yang telah berjualan selama 45 tahun di Pasar Pagi itu mengaku, kerap tidak mendapatkan pembeli sejak pagi hingga siang hari.
Menurutnya, tata letak kios di lantai dua juga kurang mendukung pergerakan pengunjung. Karena minim akses, penghubung antarblok.
“Kalau pasar lama ramai, lorongnya banyak. Orang bisa jalan ke sana-sini. Sekarang hanya satu lorong panjang, jadi kios yang di bagian dalam jarang dilihat pembeli,” katanya.
Ia juga menilai, aktivitas perdagangan di lantai dua belum bisa tumbuh optimal. Karena sejumlah sektor penting seperti pedagang sayur, ikan, dan daging belum seluruhnya menempati area pasar baru.
“Kalau sembako itu saling mendukung dengan pedagang sayur, ikan, dan daging. Kalau mereka belum masuk semua, tentu pengunjung juga berkurang,” ujarnya.
Masalah kebersihan pasca revitalisasi, ia menilai Pasar Pagi terasa lebih nyaman dan bersih.
Karenanya H Surati, tetap memilih bertahan sambil menunggu pasar diresmikan secara penuh oleh Pemerintah Kota Samarinda.
“Yang penting sehat dulu. Kita syukuri saja sambil menunggu nanti bagaimana kebijakan pemerintah,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Barsiah, pedagang pakaian yang telah berjualan sejak 1986.
Namun menurutnya, kondisi sepi tidak hanya terjadi di Pasar Pagi, melainkan hampir di seluruh pasar tradisional akibat melemahnya daya beli masyarakat.
“Kalau tempatnya tentu lebih nyaman sekarang. Bangunannya bagus, bersih. Cuma memang pasarnya lagi sepi. Bukan Pasar Pagi saja, hampir semua pasar juga begitu,” ujarnya.
Barsiah yang memiliki 12 kios di beberapa lantai mengaku tetap memperoleh pembeli setiap hari, meski jumlahnya tidak sebanyak sebelum revitalisasi.
“Dapat pembeli tetap ada, alhamdulillah. Memang tidak seramai dulu, tapi masih jalan,” katanya.
Ia mengakui, kios yang berada di area pojok lantai enam menjadi lokasi paling sepi karena minim dilalui pengunjung.
“Kalau yang di lantai enam paling ujung itu memang sering tidak dapat pelaris. Kadang seminggu cuma dua atau tiga kali ada pembeli,” ungkapnya.
Sebagai informasi, revitalisasi Pasar Pagi di Kota Samarinda menghabiskan total anggaran sekitar Rp468,5 miliar, yang terbagi atas Tahap I (fasad dan struktur) sekitar Rp290 miliar dan Tahap II (penyelesaian) sekitar Rp150 miliar.
Selain itu, Pemkot Samarinda juga mengalokasikan tambahan anggaran Rp3 miliar untuk pemasangan penutup geser (sliding) guna mengatasi tempias air hujan di dalam bangunan pasar. Proyek tambahan tersebut saat ini masih dalam tahap lelang dan ditargetkan rampung pada Desember 2026.
Gedung Pasar Pagi yang baru memiliki tujuh lantai utama dengan lantai dasar difungsikan sebagai area parkir. Meski menawarkan fasilitas yang lebih modern, sejumlah pedagang berharap penataan akses dan distribusi kios dapat dievaluasi agar aktivitas perdagangan kembali ramai seperti sebelum revitalisasi.

