Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Pakar Hukum Soroti Kasus Korupsi yang Menggantung, Minta Penegak Hukum Segera Ambil Keputusan

    Juni 20, 2026

    Donor Darah, Selain Menolong Sesama Juga Bermanfaat Bagi Kesehatan Tubuh

    Juni 20, 2026

    BPKAD Kaltim Pastikan Setiap Pendapatan Daerah Sekecil Apapun Nilainya, Harus Masuk Kas Daerah

    Juni 20, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Hukum»Pakar Hukum Soroti Kasus Korupsi yang Menggantung, Minta Penegak Hukum Segera Ambil Keputusan
    Hukum

    Pakar Hukum Soroti Kasus Korupsi yang Menggantung, Minta Penegak Hukum Segera Ambil Keputusan

    R’syaBy R’syaJuni 20, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Pakar Hukum Pidana, Chairul Huda saat ditemui di Jakarta. (Insitekaltim/R’sya)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitkaltim, Samarinda – Praktik penanganan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang berlangsung bertahun-tahun tanpa kepastian hukum mendapat kritik dari kalangan akademisi hukum. Aparat penegak hukum diminta tidak membiarkan suatu perkara berada dalam status penyidikan terlalu lama karena berpotensi mengabaikan prinsip keadilan dan kepastian hukum.

    Pakar Hukum Pidana Chairul Huda menegaskan bahwa setiap perkara harus segera diarahkan pada keputusan yang jelas berdasarkan alat bukti yang tersedia. Jika bukti yang dimiliki tidak cukup, perkara seharusnya dihentikan. Sebaliknya, apabila unsur pembuktian telah terpenuhi, kasus perlu segera dibawa ke persidangan.

    “Perkara harus segera mendapatkan kepastian hukum. Jika tidak cukup bukti, hentikan. Jika cukup bukti, bawa ke pengadilan,” kata Chairul Huda saat ditemui di Jakarta, Sabtu, 20 Juni 2026.

    Menurutnya, penyidikan yang berlangsung hingga lima, enam, bahkan delapan tahun tanpa perkembangan signifikan menunjukkan adanya persoalan dalam proses pembuktian. Kondisi tersebut dinilai tidak sehat bagi sistem peradilan karena membuat status hukum suatu perkara terus menggantung.

    Chairul menilai, ketidakjelasan yang berkepanjangan tidak hanya merugikan pihak yang terlibat dalam perkara, tetapi juga berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap proses penegakan hukum.

    Ia mengingatkan bahwa dalam sistem hukum Indonesia, termasuk di lingkungan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), terdapat mekanisme yang mengatur penghentian perkara apabila dalam jangka waktu tertentu tidak ditemukan perkembangan berarti.

    Menurut Chairul, ketentuan tersebut dibuat untuk mencegah munculnya kasus-kasus yang dibiarkan berlarut-larut tanpa arah penyelesaian yang jelas.

    “Kalau dalam dua tahun tidak ada perkembangan yang berarti, maka seharusnya perkara tersebut dihentikan. Tujuannya agar tidak ada kasus yang terus menggantung tanpa kepastian,” ujarnya.

    Selain menyoroti lamanya proses penyidikan, Chairul juga mengkritisi perbedaan informasi yang kerap disampaikan kepada publik pada tahap awal penanganan perkara dengan fakta hukum yang kemudian muncul di persidangan.

    Ia mencontohkan perkara yang sempat dikenal luas sebagai kasus “Oplosan BBM Pertamina”. Menurutnya, setelah masuk ke ruang sidang, substansi perkara yang diperiksa justru berkaitan dengan pengelolaan sewa terminal bahan bakar minyak dan penyewaan kapal tanker, bukan soal pengoplosan BBM sebagaimana yang berkembang di masyarakat.

    Perbedaan tersebut, kata dia, dapat memunculkan persepsi yang keliru dan berpotensi memengaruhi penilaian publik terhadap pihak-pihak yang belum tentu terbukti bersalah secara hukum.

    “Ketika sudah sampai di pengadilan, yang dibahas justru terkait persoalan sewa terminal BBM dan penyewaan kapal tanker. Jadi berbeda dengan narasi yang berkembang di awal,” katanya.

    Fenomena serupa, lanjut Chairul, juga terlihat dalam sejumlah perkara yang melibatkan tokoh publik maupun pejabat pemerintahan. Karena itu, ia menilai penting bagi aparat penegak hukum untuk menyampaikan informasi secara proporsional dan berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Dalam konteks perkara yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah, Chairul mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam membedakan antara kebijakan administratif dan tindakan yang memenuhi unsur tindak pidana korupsi.

    Menurutnya, tidak semua keputusan pejabat yang menimbulkan kontroversi dapat langsung dikategorikan sebagai tindak pidana. Oleh karena itu, proses hukum harus dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan aspek kewenangan, diskresi, serta unsur-unsur pidana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

    “Perlu dilihat secara objektif apakah suatu perkara murni merupakan pelanggaran hukum atau berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan. Jangan sampai wilayah kebijakan dan hukum pidana dicampuradukkan,” tegasnya.

    Ia menambahkan, transparansi dan profesionalisme menjadi faktor penting dalam menjaga kredibilitas lembaga penegak hukum. Penanganan perkara yang tidak jelas arah dan batas waktunya berpotensi menimbulkan spekulasi serta kecurigaan publik terhadap proses hukum yang sedang berjalan.

    Bagi Chairul, kepastian hukum merupakan salah satu fondasi utama dalam negara hukum. Karena itu, setiap perkara harus ditangani secara terukur, didukung bukti yang kuat, serta diselesaikan dalam waktu yang wajar agar hak-hak warga negara tetap terlindungi dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan dapat terjaga.

     

    Chairul Huda Hukum Kasus Pidana Korupsi
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    R’sya

    Related Posts

    Sengketa Lahan Yayasan Melati Belum Berakhir, Kadisdikbud Kaltim Prioritaskan Stabilitas

    Juni 18, 2026

    Usai Menang PK PM Noor, Kubu Heryono Bersihkan Spanduk Ilegal dan Desak Pengosongan

    Juni 18, 2026

    TAG Kaltim Digugat ke PTUN Samarinda, Persoalkan Jumlah dan Anggaran Rp10,7 Miliar

    Juni 11, 2026

    Rita Widyasari, Perusahaan Keluarga Sudah Berdiri Sebelum Saya Menjabat

    Juni 6, 2026

    Pengembangan Perkara TPPU Bergulir, Rita Desak KPK Teliti Seluruh Fakta dan Dokumen

    Juni 6, 2026

    Polisi Ringkus Residivis Pembobol Rumah di Samarinda, Uang Rp85 Juta hingga Emas Logam Mulia Digondol

    Juni 4, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Pakar Hukum Soroti Kasus Korupsi yang Menggantung, Minta Penegak Hukum Segera Ambil Keputusan

    R’syaJuni 20, 2026

    Insitkaltim, Samarinda – Praktik penanganan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang berlangsung bertahun-tahun tanpa kepastian…

    Donor Darah, Selain Menolong Sesama Juga Bermanfaat Bagi Kesehatan Tubuh

    Juni 20, 2026

    BPKAD Kaltim Pastikan Setiap Pendapatan Daerah Sekecil Apapun Nilainya, Harus Masuk Kas Daerah

    Juni 20, 2026

    Pasar Pagi Usai Revitalisasi Sepi Pembeli, Akses dan Tata Letak Jadi Sorotan

    Juni 20, 2026

    1.667 Lulusan Diwisuda, Rektor Unmul: Awal Perjalanan Menuju Kontribusi Nyata

    Juni 20, 2026
    1 2 3 … 3,158 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.