Insitekaltim, Kukar – Mengejar matahari terbit atau terbenam dari atas bukit memang terdengar sederhana. Namun, di Puncak Bukit Biru, Tenggarong, Kutai Kartanegara, pemandangan itu harus ditebus dengan perjalanan yang cukup menguras tenaga.
Berada di perbatasan Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong, dan Desa Sumber Sari, Loa Kulu, Kalimantan Timur, destinasi ini memiliki ketinggian sekitar 635 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Untuk mencapai titik atas, pengunjung harus berjalan kaki dari area bawah. Jalur diawali dengan jalan berpaving, kemudian berlanjut melewati tangga-tangga kecil sebelum mulai menanjak.
Di sejumlah titik, tersedia tali tambang untuk membantu pengunjung melewati jalur. Ada pula dua tanjakan yang cukup curam sehingga perlu dilewati dengan hati-hati.
Beberapa bagian jalur juga cukup sempit. Pengunjung yang hendak naik dan turun terkadang harus bergantian, terutama ketika melewati bagian yang membutuhkan tali tambang. Jika sedang ramai, antrean pun bisa terjadi.
Saat cuaca tidak hujan, jalur cenderung berdebu. Waktu tempuh bergantung pada kecepatan berjalan dan frekuensi beristirahat. Jika berjalan cepat tanpa banyak berhenti, perjalanan bisa ditempuh kurang dari satu jam. Sementara dengan tempo santai dan beberapa kali beristirahat, waktunya bisa lebih dari satu jam.
Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, jalur tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun, sesampainya di atas, rasa lelah terbayar dengan pemandangan dan angin yang cukup terasa.
Eca, pengunjung asal Samarinda menjadi salah satu yang mencoba Bukit Biru untuk pertama kalinya. Ia datang bersama enam temannya untuk mencari suasana baru sekaligus refreshing.
Rombongan Eca berangkat sekitar pukul 15.00 Wita dan tiba sekitar pukul 16.30 Wita setelah sempat tersesat karena mengandalkan aplikasi peta.
“Baru pertama kali ke sini. Berangkat jam tiga, sampai sekitar setengah lima karena sempat tersesat juga dan mengandalkan Maps. Pemandangannya indah, banyak angin. Kami datang ramean, totalnya bertujuh sama teman karena mau coba dan memang pengen ngalam sekaligus refreshing,” ujarnya usai mendaki di Bukit Biru, Minggu, 16 Agustus 2026.
Menurutnya, bagian yang paling membuat waswas adalah ketika jalur mulai menanjak.
“Yang bikin serem pas naiknya. Dua kali tanjakan di atas itu cukup curam dan agak datar jadi ngeri. Kalau untuk turunnya rasanya lebih gampang,” kisahnya.
Datang menjelang sore untuk mengejar sunset, Eca dan rombongannya mendapati area atas sudah ramai. Pengunjung datang dalam berbagai rombongan, mulai dari bersama teman, pasangan hingga keluarga.
Area yang relatif tidak luas membuat titik atas semakin padat ketika sore menjelang sunset. Mereka yang datang perlu berbagi ruang untuk menikmati pemandangan maupun mengambil foto.
Namun, Bukit Biru bukan hanya tujuan bagi pemburu sunset. Sejumlah pengunjung juga datang sejak subuh untuk mengejar sunrise.
Artinya, pengunjung bisa memilih momen yang ingin dinikmati. Pagi hari menawarkan suasana matahari terbit, sedangkan sore menjadi waktu bagi mereka yang ingin menunggu matahari terbenam. Hanya saja, bagi pemburu sunset, kondisi yang ramai perlu menjadi pertimbangan.
Di area bawah, tersedia sejumlah fasilitas seperti gazebo, toilet, tempat berjualan hingga penginapan. Tiket masuk dibanderol Rp5 ribu per orang, sedangkan parkir sepeda motor tidak dikenakan biaya.
Dengan jalur yang cukup menantang, pengunjung sebaiknya menggunakan alas kaki yang nyaman dan tetap berhati-hati, terutama ketika melewati bagian curam maupun jalur yang mengharuskan bergantian dengan pengunjung lain.
Bagi Eca, lelah selama perjalanan justru menjadi bagian dari pengalaman pertamanya.
“Capek banget, tapi seru. Apalagi bisa foto-foto juga,” ucapnya.
Pada akhirnya, daya tarik Bukit Biru bukan hanya apa yang terlihat dari atas. Perjalanan menuju ke sana, tanjakan, debu, angin hingga suasana ramai menjadi bagian dari pengalaman sebelum akhirnya pengunjung bisa duduk menikmati langit dari ketinggian.

